Peta politik di dalam tubuh FIFA kini tengah mengalami polarisasi yang tajam. Laporan dari BBC Sport mengungkapkan bahwa kekuatan pemilik suara di federasi sepak bola dunia tersebut terbelah ke dalam dua kubu. Terdapat 124 negara yang secara terbuka menyatakan penolakan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino, sedangkan 73 negara lainnya memilih untuk tetap memberikan dukungan. Untuk memahami dinamika konstelasi politik sepak bola global saat ini, berikut adalah panduan memetakan situasi tersebut beserta posisi Indonesia di dalamnya.
Langkah pertama dalam menelaah konflik ini adalah mengidentifikasi pemicu utama keretakan. Perselisihan bermula dari niat kontroversial Infantino untuk melepas sebagian saham kompetisi elite FIFA, seperti Piala Dunia, kepada pihak swasta. Kebijakan tersebut memicu kemarahan dari berbagai konfederasi. Selain isu investasi, Infantino juga didera tekanan akibat investigasi Daily Telegraph mengenai dugaan pembayaran pesangon dari UEFA kepada kekasihnya saat ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA. Meski Infantino membantah keras tuduhan perselingkuhan serta penyalahgunaan wewenang itu, isu tersebut tetap memengaruhi situasi politik internal FIFA. Dukungan politik dari luar ranah sepak bola sempat datang dari Donald Trump yang memberikan pembelaan penuh bagi Infantino di tengah terpaan skandal dan kritik investasi.
Pamor Borneo 2026, Kalsel Tawarkan 15 Proyek Investasi Senilai Rp73 Triliun

Selanjutnya, penting untuk memetakan aliansi penolak yang dipimpin oleh tiga konfederasi besar. UEFA, Concacaf, dan AFC telah bersatu melayangkan mosi tidak percaya terhadap Infantino. Dalam kelompok oposisi ini, nama Presiden Concacaf, Victor Montagliani, muncul sebagai kandidat terkuat yang digadang-gadang akan menantang dominasi Infantino pada pemilihan mendatang. Meskipun organisasi wilayah seperti Concacaf bersuara keras, terdapat perbedaan sikap di tingkat negara anggota. Amerika Serikat dan Kanada memilih mendukung pernyataan resmi Concacaf tanpa secara eksplisit menolak kepemimpinan Infantino, sedangkan Meksiko justru mengambil langkah berbeda dengan memberikan dukungan penuh kepada sang petahana.
Di sisi lain, peta dukungan menunjukkan pola di mana PSSI mengambil peran penting. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia tercatat sebagai federasi pertama di kawasan Asia yang terang-terangan memberikan dukungan kepada Infantino. Ketua Umum PSSI Erick Thohir telah menegaskan komitmen penuh agar Infantino kembali menjabat sebagai Presiden FIFA pada Kongres FIFA 2027 di Maroko. Langkah PSSI ini kemudian diikuti oleh sepuluh negara Asia lainnya, yaitu Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Sri Lanka, Lebanon, Bhutan, Mongolia, Filipina, Bangladesh, dan Timor Leste. Dengan demikian, setidaknya ada 11 negara anggota AFC yang tidak sejalan dengan mosi tidak percaya konfederasinya demi mendukung Infantino. Selain faksi Asia ini, Infantino juga mempertahankan basis dukungan yang kuat di Afrika (CAF) dan Amerika Selatan (CONMEBOL) berkat sokongan kucuran dana program FIFA Forward.
Perkuat Manufaktur Nasional, Dinamo Motor Listrik Kini Dibuat di Dalam Negeri

Untuk memperkirakan arah konflik ini ke depan, posisi negara-negara netral dan mekanisme konstitusional FIFA perlu diperhatikan. Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) memilih bersikap netral dalam polemik ini. Sementara itu, Arab Saudi yang berstatus sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 belum menentukan posisi resminya. Jika ketegangan terus berlanjut, oposisi dapat memicu mekanisme rapat darurat Dewan FIFA. Berdasarkan regulasi, rapat darurat wajib digelar dalam waktu dua minggu jika diminta oleh minimal 19 dari 37 anggota Dewan FIFA. Struktur dewan saat ini terdiri dari sembilan perwakilan UEFA, tujuh dari AFC, enam dari CAF, lima dari Concacaf, lima dari CONMEBOL, tiga dari Oseania, ditambah Infantino dan Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom. Di tengah dinamika diplomasi internasional ini, PSSI sendiri juga dihadapkan pada agenda domestik berupa evaluasi menyeluruh setelah Timnas Indonesia gagal menembus semifinal Piala AFF 2026 akibat ditahan imbang Singapura 1-1 di laga terakhir Grup B.






