Penemuan mengerikan kembali terjadi di tengah konflik bersenjata yang melanda Sudan. Sebuah kuburan massal berhasil ditemukan di wilayah Kurmuk, Blue Nile, setelah pasukan militer merebut kembali kota tersebut dari kendali pemberontak. Unit militer menemukan lokasi makam tersebut saat melakukan operasi pembersihan di bagian timur laut Kurmuk, lebih dari sebulan setelah pasukan pemerintah berhasil mengambil alih kendali wilayah tersebut. Terkait isu Perang Saudara Negara Arab, Kuburan Massal Ditemukan kembali di wilayah konflik tersebut, memperlihatkan besarnya dampak korban jiwa di kalangan warga sipil.
Berdasarkan laporan dari otoritas setempat, kuburan massal tersebut berisi setidaknya 25 jenazah. Korban yang diidentifikasi tidak hanya terdiri dari militer, melainkan juga kelompok sipil yang rentan termasuk perempuan, anak-anak, serta sejumlah pekerja rumah sakit. Komisaris Kurmuk, Abdel Aty Mohamed al Faki, menuduh kelompok paramiliter pemberontak Rapid Support Forces (RSF) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas eksekusi mati para korban tersebut. Para korban dilaporkan tewas di dekat Jebel Fankat, sebuah area perbukitan yang digunakan oleh milisi RSF untuk meluncurkan serangan menggunakan drone bunuh diri.
Konflik bersenjata antara militer resmi pemerintah, Sudan Armed Forces (SAF), dan kelompok paramiliter RSF sebenarnya telah pecah sejak April 2023. Kasus penemuan makam massal di Kurmuk ini bukanlah tuduhan kekejaman pertama yang diarahkan kepada pihak pemberontak. Pada November 2025, jaringan dokter Sudan Doctors Network juga sempat menuduh RSF mengumpulkan ratusan mayat dari jalanan dan kawasan permukiman di El-Fasher, wilayah Darfur. Sebagian dari jenazah di Darfur tersebut dikuburkan secara massal, sedangkan sebagian lainnya sengaja dibakar untuk menghilangkan bukti kejahatan pembunuhan.
Langkah Bea Cukai Menggagalkan Penyelundupan 8,96 Juta Rokok Ilegal via Kereta

Di tengah berbagai laporan pelanggaran kemanusiaan ini, pertempuran memperebutkan wilayah strategis terus berlanjut. Sepanjang tahun 2025, militer pemerintah mengklaim telah merebut kembali Khartoum dan menyatakan seluruh wilayah ibu kota tersebut telah sepenuhnya terbebas dari cengkeraman RSF. Memasuki akhir Juli, pergerakan militer Sudan juga berhasil merebut kembali beberapa wilayah penting di North Kordofan dari kekuasaan RSF, termasuk kota Bara, Jabra al-Sheikh, dan Um Sayala. Kepala Militer Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, bahkan mengunjungi posisi pasukannya di garis depan pertempuran di kawasan North Kordofan tersebut.
Dampak kehancuran akibat perang saudara ini memicu krisis kemanusiaan yang sangat masif di kawasan tersebut. Utusan khusus Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Derk Segaar, telah menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Sudan. Menurut data IFRC, diperkirakan sekitar 35 juta orang di negara tersebut saat ini membutuhkan bantuan kemanusiaan. Selain itu, kehancuran infrastruktur memaksa lebih dari 9 juta orang mengungsi di dalam negeri, sementara 4,5 juta lainnya melarikan diri ke luar negeri.
Kepala Intelijen Militer Pasukan Libya Timur Tewas dalam Ledakan Bom Mobil di Benghazi

Secara geografis, Sudan terletak di wilayah Afrika Timur Laut dan berbatasan langsung dengan negara Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Ethiopia, serta Eritrea. Secara budaya, Sudan menggunakan bahasa Arab sebagai salah satu bahasa utamanya dan merupakan anggota aktif Liga Arab. Dengan latar belakang sejarah dan keanggotaan tersebut, perkembangan konflik internal di Sudan terus menjadi perhatian dunia internasional.






