Sebuah serangan bom mobil yang mematikan kembali mengguncang Libya. Kepala Departemen Intelijen Militer pasukan Libya timur, Mayor Jenderal Fawzi al-Mansouri, dilaporkan tewas dalam insiden ledakan bom mobil yang terjadi di Benghazi pada hari Senin, 10 Agustus 2026 waktu setempat. Peristiwa tragis ini menambah panjang daftar kekerasan di negara yang tengah dilanda konflik internal tersebut, sekaligus melenyapkan salah satu perwira tinggi militer yang memegang peran krusial dalam struktur pertahanan di wilayah timur Libya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Mayor Jenderal Fawzi al-Mansouri tewas akibat ledakan dari sebuah bom rakitan atau improvised explosive device (IED). Alat peledak tersebut sengaja dipasang di bawah kendaraan milik sang jenderal. Ledakan hebat itu terjadi tepat di depan rumah kediamannya yang terletak di kawasan al-Sayyida Aisha, Benghazi timur, sesaat ketika al-Mansouri hendak masuk ke dalam mobilnya. Seorang pejabat keamanan Libya yang berbicara dengan syarat anonim menggambarkan insiden mematikan tersebut sebagai sebuah serangan teroris yang sengaja dirancang untuk menargetkan Fawzi al-Mansouri secara khusus.
Meskipun serangan ini telah merenggut nyawa seorang pejabat intelijen militer yang sangat penting, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh otoritas berwenang di Libya terkait pembunuhan tersebut. Pihak berwenang setempat belum memberikan penjelasan mengenai jalannya penyelidikan ataupun pihak yang berada di balik serangan bom mobil ini. Belum ada pula kelompok tertentu yang menyatakan bertanggung jawab atas aksi teror yang menargetkan figur militer senior di Benghazi tersebut.
Langkah Bea Cukai Menggagalkan Penyelundupan 8,96 Juta Rokok Ilegal via Kereta

Mayor Jenderal Fawzi al-Mansouri sendiri dikenal luas sebagai salah satu pejabat senior dalam struktur kekuatan militer yang dipimpin oleh Khalifa Haftar. Khalifa Haftar merupakan tokoh kuat yang memegang kendali atas sebagian besar wilayah timur dan selatan Libya. Sebelum memimpin badan intelijen, al-Mansouri memiliki rekam jejak kepemimpinan militer, di antaranya menjabat sebagai komandan Zona Militer Sabha terhitung sejak tanggal 3 Agustus 2021. Karir militernya terus menanjak hingga akhirnya Khalifa Haftar menunjuk al-Mansouri untuk memimpin Departemen Intelijen Militer pada tanggal 20 Mei 2024.
Peristiwa pembunuhan terhadap kepala intelijen militer ini terjadi di tengah situasi politik Libya yang masih mengalami perpecahan mendalam. Hingga saat ini, negara tersebut masih terbagi ke dalam dua pemerintahan yang saling bersaing untuk memperebutkan kekuasaan di wilayah yang berbeda. Di wilayah barat, terdapat Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) yang diakui secara internasional. Pemerintahan GNU ini dipimpin oleh Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibeh yang berkedudukan di Tripoli. Sebaliknya, wilayah timur dan sebagian besar wilayah selatan Libya berada di bawah kendali pemerintahan yang ditunjuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat, yang saat ini dipimpin oleh Osama Hammad dengan basis pemerintahan di Benghazi.
Status Siaga Darurat Karhutla di Indonesia dan Upaya Penanganannya

Kondisi terpecahnya kekuasaan politik di Libya ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Akar dari konflik dan perpecahan politik yang berkepanjangan ini bermula dari situasi kekacauan pasca-penggulingan pemimpin Libya terdahulu, Muammar Gaddafi, pada tahun 2011 silam. Sejak saat itu, Libya terus berjuang untuk memulihkan stabilitas negaranya. Dalam upaya mengatasi kebuntuan politik tersebut, Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) terus bekerja untuk mendorong jalannya proses politik. Langkah internasional ini diharapkan dapat membuka jalan bagi penyelenggaraan pemilihan umum yang dapat menyatukan kembali pemerintahan Libya yang terbelah.






