Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan pada pertengahan Agustus 2026. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari detikKalimantan dan Antaranews hingga Kamis (20/8/2026), titik api terpantau menyebar di beberapa lokasi strategis. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena dampaknya yang terus meluas dan mulai mengganggu aktivitas vital masyarakat sehari-hari.
Dampak langsung dari bencana karhutla ini tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga melumpuhkan sektor transportasi dan layanan publik. Asap tebal yang dihasilkan oleh karhutla telah mengganggu jadwal penerbangan di sejumlah bandara karena jarak pandang yang menurun drastis di bawah batas aman penerbangan. Selain itu, indeks standar pencemar udara di beberapa kota dilaporkan telah merosot tajam hingga masuk ke dalam kategori bahaya bagi kesehatan manusia, sehingga warga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.
Salah satu wilayah yang merasakan dampak cukup signifikan adalah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, otoritas pendidikan setempat mengambil langkah taktis dengan menyesuaikan aktivitas belajar mengajar. Penyesuaian jam sekolah ini berlaku secara menyeluruh untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), baik sekolah negeri maupun swasta. Langkah adaptif ini diambil karena kesehatan siswa, guru, serta seluruh tenaga pendidikan menjadi prioritas utama di tengah ancaman kabut asap.
Modus Penimbunan BBM Subsidi di Banten Menggunakan Mobil Boks Modifikasi Berkapasitas 5.000 Liter

Di Palangka Raya, jam masuk bagi siswa SD dan SMP ditunda menjadi pukul 08.00 WIB, sedangkan siswa PAUD dialihkan ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pada Rabu (19/8/2026), Air Quality Index (AQI) di kota tersebut menembus angka 487 atau kategori berbahaya, dengan jarak pandang hanya sekitar 1,4 kilometer. Kondisi ini sejalan dengan temuan 1.795 titik panas di wilayah Kalimantan Tengah, di mana 281 di antaranya tersebar di Kota Palangka Raya yang meliputi wilayah Jekan Raya, Sabangau, Bukit Batu, hingga Rakumpit. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya menegaskan agar masyarakat meningkatkan perlindungan diri dan wajib menggunakan masker saat keluar rumah.
Upaya penanganan terus digencarkan di wilayah Kalimantan Tengah lainnya. Di Kabupaten Pulang Pisau, pemerintah daerah meminta dukungan pemerintah pusat untuk membangun sumur bor permanen di kawasan rawan karhutla seperti Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya. Sementara itu, di Kabupaten Kotawaringin Timur, seorang relawan dilarikan ke IGD RSUD dr Murjani Sampit akibat kelelahan dan sesak napas setelah memadamkan api di Kecamatan Baamang. Di Kabupaten Kotawaringin Barat, kabut asap mengganggu jarak pandang pengendara di Pangkalan Bun, dan karhutla kembali muncul di kawasan Paring Kuning, Kecamatan Kumai, yang diduga dipicu oleh puntung rokok.
Baznas Salurkan 48 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Kulon Progo

Dampak karhutla juga meluas hingga ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Di Kota Banjarbaru, Dinas Pendidikan setempat memundurkan jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 Wita bagi sekolah yang terdampak kabut asap. Di Banjarmasin, sebanyak 12 penerbangan di Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor sempat tertunda akibat terganggunya jarak pandang. Jajaran Polresta Banjarmasin turut menggelar salat Istisqa untuk memohon hujan. Sementara itu, di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran lahan seluas 10,65 hektare di Kelurahan Sepan setelah berjibaku sejak siang hingga tengah malam.






