Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 05.30 pagi waktu setempat, meninggalkan dampak yang sangat mendalam bagi warga setempat. Pascabencana tersebut, krisis pasokan pangan dan air bersih mulai mengancam ratusan pengungsi yang bertahan di Posko Binaan Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Kondisi di posko pengungsian ini kian mengkhawatirkan karena bantuan logistik yang sangat dibutuhkan belum kunjung memadai, sementara kebutuhan dasar warga terdampak harus segera dipenuhi agar mereka dapat bertahan hidup di tengah situasi darurat ini.
Salah seorang warga yang mengungsi di posko tersebut, Zaitun, menuturkan kisah pilu mengenai perjuangan mereka bertahan hidup setelah gempa terjadi. Zaitun menceritakan bahwa gempa bumi yang terjadi pada pagi hari tersebut menyisakan trauma yang mendalam baginya, terlebih karena peristiwa itu terjadi persis pada pukul 05.30 pagi saat dirinya baru saja bangun tidur. Kini, setelah bencana melanda, ia mengungkapkan bahwa persediaan beras dan air minum di posko pengungsian sudah mulai menipis. Kondisi ini membuat para pengungsi diselimuti kebingungan karena mereka tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa untuk menyambung hidup.
Faktor di Balik Usulan Kenaikan Biaya Haji 2027

Demi mempertahankan hidup di tengah keterbatasan yang kian menghimpit, para korban gempa terpaksa melakukan berbagai cara, termasuk mengais sisa-sisa beras di antara reruntuhan bangunan rumah warga yang telah hancur. Situasi di Posko Binaan Satar Kampas juga semakin memprihatinkan dari hari ke hari seiring dengan terus bertambahnya jumlah warga yang berdatangan untuk mengungsi. Berdasarkan informasi dari lapangan, anak-anak hingga balita turut berada di lokasi pengungsian tersebut, berbagi ruang yang terbatas dengan pengungsi lainnya di tengah ancaman kekurangan logistik yang semakin nyata.
Saat ini, Posko Binaan Satar Kampas telah diisi oleh lebih dari ratusan orang yang sangat bergantung pada uluran tangan dan bantuan kemanusiaan. Kebutuhan mendesak yang sangat diperlukan oleh para pengungsi saat ini meliputi bahan makanan pokok atau sembako serta pasokan air minum yang bersih dan layak konsumsi. Selain kebutuhan pangan, ratusan pengungsi yang bertahan di posko ini juga sangat membutuhkan selimut untuk menghangatkan diri, serta berbagai produk kebersihan pribadi seperti sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, hingga sikat gigi guna menjaga sanitasi mereka selama berada di tempat pengungsian.
Penyidikan Korupsi Program Makan Bergizi Gratis, Kejagung Periksa 6 Saksi

Di tengah keputusasaan tersebut, para pengungsi sempat disarankan untuk mengambil bantuan di tempat lain, yaitu di Posko Ronting yang terletak sekitar lima kilometer dari Posko Binaan Satar Kampas. Namun, harapan para pengungsi untuk mendapatkan pasokan logistik di sana harus pupus karena bantuan yang tersedia di Posko Ronting ternyata juga sudah mulai menipis. Kelangkaan bantuan di kedua posko ini akhirnya memicu ketegangan dan gesekan emosi






