Dinamika ekonomi global yang terus berubah memberikan pengaruh signifikan terhadap kebijakan moneter di dalam negeri. Baru-baru ini, Crysania Suhartanto menyelenggarakan sebuah dialog interaktif bersama FX Analyst CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, dalam program acara Regional Power Lunch di CNBC Indonesia. Diskusi hangat ini membahas secara mendalam mengenai proyeksi arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate serta bagaimana nasib nilai tukar Rupiah hingga akhir tahun mendatang. Melalui dialog tersebut, berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keputusan moneter nasional turut dikaji guna memberikan gambaran yang lebih jelas bagi masyarakat dan pelaku pasar.
Dalam kesempatan tersebut, FX Analyst CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, menyampaikan estimasinya mengenai arah pergerakan suku bunga acuan. Menurut pandangan Elvan Chandra Widyatama, peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas BI Rate dalam waktu dekat diperkirakan cukup kecil. Estimasi ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap berbagai indikator ekonomi makro yang saat ini sedang berkembang. Kecilnya peluang penurunan suku bunga acuan ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar yang mengharapkan adanya pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Prospek Ekonomi Global 2026, Bank Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan Bertahan di Angka 3 Persen

Lebih lanjut, Elvan Chandra Widyatama menjelaskan bahwa kecilnya peluang bagi Bank Indonesia untuk memotong BI Rate dipengaruhi oleh beberapa faktor global yang saling berkaitan. Salah satu faktor utamanya adalah masih berlanjutnya gejolak harga minyak dunia yang memberikan dampak langsung pada tingkat inflasi. Selain fluktuasi harga minyak dan efeknya terhadap inflasi, kondisi ini juga diperumit oleh adanya potensi kenaikan suku bunga acuan dari Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed tersebut diperkirakan masih dapat berlanjut hingga akhir tahun 2026 mendatang.
Di sisi lain, selain peluang penurunan yang kecil, potensi kenaikan BI Rate justru masih tetap terbuka lebar. Elvan Chandra Widyatama memaparkan bahwa potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ini sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar Rupiah di pasar keuangan. Tidak hanya bergantung pada pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, arah kebijakan BI Rate ke depan juga akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan suku bunga acuan The Fed, yaitu Fed Funds Rate (FFR). Kedua faktor tersebut menjadi acuan utama bagi Bank Indonesia dalam menentukan langkah moneter selanjutnya.
Ketergantungan Impor Minyak Indonesia dan Strategi Mandatori Biodiesel B50

Hubungan antara kebijakan Bank Indonesia dan Bank Sentral Amerika Serikat memang sangat erat dalam konteks ekonomi global saat ini. Jika The Fed memutuskan untuk mengerek naik Fed Funds Rate (FFR), maka BI Rate juga memiliki potensi atau peluang yang cukup besar untuk ikut mengalami kenaikan. Oleh karena itu, para pelaku ekonomi perlu mencermati pergerakan nilai tukar Rupiah serta arah kebijakan FFR dari The Fed. Dengan memantau faktor-faktor penentu tersebut, pasar dapat mengantisipasi kemungkinan kenaikan BI Rate yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat serta gejolak inflasi global.






