Bank Indonesia memproyeksikan dinamika perekonomian global dan domestik sepanjang tahun 2026 menunjukkan arah perkembangan yang kontras. Berdasarkan data evaluasi pada paruh pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat kuat pada angka 5,61 persen secara tahunan (yoy). Tren positif tersebut kemudian berlanjut pada kuartal II 2026 dengan capaian pertumbuhan sebesar 5,29 persen (yoy). Catatan performa ini menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi nasional di tengah situasi global yang kurang menguntungkan.
Untuk memahami kondisi terkini secara lebih mendalam, berikut adalah rincian mengenai situasi ekonomi dunia dan faktor domestik yang menjadi acuan Bank Indonesia dalam menetapkan proyeksi ke depan.
Pertumbuhan Ekonomi Global dan Tekanan Inflasi Kondisi perekonomian dunia diproyeksikan masih bergerak melemah akibat ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik yang belum mereda. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 belum kuat dan hanya berada di kisaran 3 persen. Di sisi lain, tekanan inflasi di tingkat global dianalisis masih tetap tinggi, yakni berada di sekitar angka 4,5 persen pada tahun 2026.
Strategi dan Prinsip Warren Buffett dalam Membangun Kekayaan

Kebijakan Moneter Amerika Serikat dan Imbal Hasil Surat Utang Ketidakpastian pasar keuangan global juga dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat. Suku bunga acuan yang dikenal sebagai Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan mengalami kenaikan pada kuartal IV 2026. Dampak dari ekspektasi kenaikan FFR ini, ditambah dengan kondisi defisit anggaran Amerika Serikat yang masih lebar, memicu kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury. Yield surat utang pemerintah AS ini pun diperkirakan akan tetap bertahan di level yang tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Stimulus Fiskal dan Konsumsi Domestik Indonesia Meskipun tekanan dari eksternal cukup kuat, perekonomian Indonesia tetap kokoh berkat sokongan aktivitas domestik. Pertumbuhan pada kuartal II 2026 ditopang secara signifikan oleh stimulus fiskal dari pemerintah. Kebijakan stimulus ini berdampak langsung pada peningkatan investasi serta konsumsi pemerintah. Tingginya pertumbuhan konsumsi pemerintah tersebut didorong oleh peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13, serta realisasi belanja barang dan jasa untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dampak Hilirisasi terhadap Investasi dan Penguatan Industri Logam Indonesia

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dengan mempertimbangkan tantangan dari ketidakpastian global serta kekuatan faktor pendukung domestik tersebut, Bank Indonesia menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk keseluruhan tahun 2026. Bank sentral memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi nasional akan berada pada rentang 4,9 persen hingga 5,7 persen. Rentang angka ini mencerminkan optimisme bahwa ketahanan pasar dalam negeri mampu meredam dampak negatif dari pelemahan ekonomi luar negeri.






