Lompatan laba bersih PT Timah sebesar 804,7 persen menjadi sorotan utama dalam perkembangan terbaru badan usaha milik negara. Perusahaan tambang tersebut berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih dari Rp 300 miliar menjadi Rp 2,71 triliun pada Semester I 2026. Pencapaian ini menjadi bagian dari sederet capaian kinerja BUMN di bawah pengelolaan Danantara yang menunjukkan tren pertumbuhan positif di berbagai sektor industri strategis tanah air. Kenaikan signifikan ini menandai fase baru dalam transformasi portofolio perusahaan negara.
Selain sektor pertambangan, industri penunjang pangan dan infrastruktur juga mencatatkan pertumbuhan yang mengesankan. PT Pupuk Indonesia berhasil membukukan kenaikan laba bersih hingga 253 persen, dari Rp 2,41 triliun menjadi Rp 8,51 triliun. Pada saat yang sama, PT Semen Indonesia mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 196,5 persen menjadi Rp 193,46 miliar dari sebelumnya Rp 65,24 miliar. Kenaikan ini diikuti oleh PT Agrinas Palma Nusantara yang mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 150 persen dari Rp 356 miliar menjadi Rp 890 miliar. Lonjakan kinerja ini mengonfirmasi keberhasilan konsolidasi sektor-sektor strategis yang kini berada di bawah naungan BUMN.
Sektor keuangan nonbank dan logistik turut memberikan kontribusi besar terhadap akumulasi keuntungan ini. PT Pegadaian mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 84,6 persen menjadi Rp 6,59 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp 3,57 triliun. Di sektor transportasi laut dan pelabuhan, PT Pelindo menunjukkan kinerja solid dengan kenaikan laba bersih sebesar 60,4 persen menjadi Rp 2,57 triliun. Sementara itu, di sektor perkebunan, PTPN IV PalmCo mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 54 persen dari Rp 2,10 triliun menjadi Rp 3,23 triliun.
Dampak Adopsi Kecerdasan Buatan bagi Pelaku Bisnis dan UMKM di Indonesia

Kinerja positif tersebut diperkuat oleh sektor perbankan dan energi. Bank Tabungan Negara (BTN) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 40,8 persen menjadi Rp 2,40 triliun dari Rp 1,70 triliun. Bank Mandiri, sebagai salah satu pilar utama perbankan nasional, mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 24,3 persen, meningkat dari Rp 24,46 triliun menjadi Rp 30,41 triliun. Di sektor energi, PT Pertamina Geothermal Energy membukukan peningkatan laba bersih sebesar 15,5 persen, dari US$ 68,93 juta menjadi US$ 79,61 juta.
Perkembangan yang tidak kalah penting adalah keberhasilan sejumlah BUMN dalam membalikkan kinerja dari rugi menjadi untung. PT Krakatau Steel berhasil mengubah kondisi rugi sekitar Rp 1,74 triliun menjadi laba bersih pada kisaran Rp 150 miliar hingga Rp 185 miliar. Langkah serupa juga dicapai oleh PT Kimia Farma yang berhasil keluar dari zona merah, mengubah kerugian sebesar Rp 135,61 miliar menjadi laba bersih senilai Rp 54,07 miliar. Pembalikan arah ini memberikan sinyal positif bagi perbaikan struktural perusahaan-perusahaan tersebut.
Pamor Borneo 2026, Kalsel Tawarkan 15 Proyek Investasi Senilai Rp73 Triliun

Menurut Toto Pranoto, Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, kinerja positif ini banyak ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan unggulan yang selama ini menjadi motor penggerak pendapatan dan keuntungan total BUMN. Ia menilai bahwa kinerja perusahaan negara di bawah pengelolaan Danantara masih memiliki potensi besar untuk terus meroket. Potensi tersebut sejalan dengan langkah penataan dan konsolidasi yang diharapkan dapat mempercepat proses perbaikan kinerja serta mendorong efisiensi operasional perusahaan negara secara menyeluruh.






