goklik.id
BerandaEkonomiKeuanganNasionalBeritaKriminalKesehatanPendidikanLayanan PublikHukumBerita LokalInternasionalOtomotifNewsBerita UmumEkonomi & BisnisKeamananPertanianSosial & KeluargaKulinerHumanioraTeknologiSains & TeknologiHukum & KriminalKetenagakerjaanRegionalLingkunganKarierEnergiPolitikBisnisPariwisataTravel & EventsCuacaBerita DaerahPemerintahanInfrastrukturBerita NasionalMetroKebijakan PublikOlahragaPopuler
Beranda/Ekonomi

Dinamika Pemutusan Hubungan Kerja di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Marulitua PardedeDiterbitkan 31 Jul 2026 - 00.12 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Dinamika Pemutusan Hubungan Kerja di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Bagaimana gambaran umum perekonomian Indonesia di tengah tren pemutusan hubungan kerja saat ini?

Pemerintah Indonesia secara berkala menegaskan bahwa kondisi perekonomian nasional masih berada di jalur yang aman. Hal ini didukung oleh catatan pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka 5,6 persen per Juni 2026. Meski demikian, pencapaian tersebut beriringan dengan tren pemutusan hubungan kerja atau PHK yang terus menunjukkan peningkatan. Berdasarkan laporan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat berada di level 5,61 persen secara tahunan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan bahwa indikator-indikator yang ada memperlihatkan pergerakan positif. Angka pertumbuhan tersebut bahkan diklaim melampaui proyeksi berbagai lembaga internasional serta berada di atas rata-rata negara kawasan ASEAN. Lebih lanjut, Airlangga menyatakan pemerintah sukses menjaga tingkat inflasi pada bulan Mei di kisaran 3 persen. Permintaan domestik juga dinilai terjaga dengan baik, yang tercermin dari indeks keyakinan konsumen yang masih bertahan di atas angka 100, bahkan sempat menyentuh level 120.

goklik.id

Copyright 2026 goklik.id - All Rights Reserved.

Kategori

EkonomiKeuanganNasionalBeritaKriminalKesehatanPendidikanLayanan PublikHukumBerita LokalInternasionalOtomotifNewsBerita UmumEkonomi & BisnisKeamananPertanianSosial & KeluargaKulinerHumanioraTeknologiSains & TeknologiHukum & KriminalKetenagakerjaanRegional

Mengapa pemerintah menilai kondisi ekonomi makro dan pasar kerja secara agregat masih tergolong baik?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia secara agregat memang memperlihatkan tren yang memuaskan. Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen tersebut sebagai pencapaian tertinggi pada bulan pertama sejak tahun 2013, yang sekaligus menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi nasional berjalan dengan baik. Menanggapi fenomena PHK yang terus berlangsung, Purbaya mengingatkan agar masyarakat tidak hanya melihat persoalan ini dari satu sisi, seperti pada perusahaan yang terpaksa gulung tikar. Menurutnya, dinamika masuk dan keluarnya perusahaan merupakan hal yang sangat wajar terjadi dalam mekanisme pasar yang kompetitif. Perusahaan yang mengalami kebangkrutan bisa saja terjadi meskipun ekonomi secara umum sedang mengalami pertumbuhan. Purbaya menegaskan bahwa indikator yang jauh lebih akurat untuk mengevaluasi kondisi pasar tenaga kerja adalah tingkat penciptaan lapangan kerja secara keseluruhan, bukan sekadar melihat jumlah perusahaan yang melakukan penutupan.

Baca Juga

Kawasan Industri Berpeluang Raih Pendapatan Tambahan Melalui Perdagangan Karbon

Kawasan Industri Berpeluang Raih Pendapatan Tambahan Melalui Perdagangan Karbon

Berapa angka pasti fenomena PHK yang tercatat oleh instansi terkait pada paruh pertama tahun 2026?

Meskipun pemerintah menyajikan berbagai indikator ekonomi yang positif, gelombang pemutusan hubungan kerja di lapangan masih belum surut. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan mengungkapkan bahwa jumlah pekerja yang terkena PHK selama periode Januari hingga Juni 2026 telah menembus angka 32.389 orang. Dari sebaran wilayahnya, Jawa Barat menempati posisi tertinggi sebagai provinsi dengan jumlah korban PHK terbanyak, yakni mencapai 6.727 orang. Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memaparkan temuan yang menunjukkan skala persoalan yang lebih besar. Mengacu pada data tenaga kerja nonaktif di BPJS Ketenagakerjaan akibat pemutusan hubungan kerja, Apindo mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 126 ribu buruh yang harus kehilangan pekerjaan mereka selama rentang waktu Januari hingga Mei 2026.

Mengapa sebagian pengamat ekonomi mengkritik klaim kondisi ekonomi aman dari pemerintah?

Baca Juga

Upaya Perum Bulog Mengamankan Penyerapan Tebu Petani Blora di Tengah Pemulihan PT GMM

Upaya Perum Bulog Mengamankan Penyerapan Tebu Petani Blora di Tengah Pemulihan PT GMM

Klaim positif pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi mendapat sorotan kritis dari Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda. Ia menilai ada ketidaksesuaian yang mencolok antara angka-angka makroekonomi yang disajikan dengan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Menurut Huda, jika ekonomi benar-benar tumbuh kuat di angka 5,61 persen, masyarakat seharusnya lebih mudah mendapatkan peluang kerja dan kasus PHK tidak akan terjadi secara masif. Kenyataan yang berbanding terbalik ini mengindikasikan adanya anomali data. Ia secara tegas menyatakan bahwa data klaim pemerintah tidak menunjukkan kondisi masyarakat yang sebenarnya. Huda menekankan bahwa tekanan ekonomi yang dialami warga, jika tidak segera ditangani, berpotensi memicu timbulnya berbagai masalah sosial. Masyarakat yang menganggur dan tidak memiliki penghasilan dinilai lebih rentan tersulut emosinya serta memiliki risiko lebih besar untuk terlibat dalam tindakan kriminal atau aktivitas yang tidak produktif, terutama di tengah ketimpangan pendapatan yang masih lebar.

Apa saja tanda-tanda pelemahan ekonomi yang dirasakan masyarakat dalam dua tahun terakhir?

Berdasarkan analisis CELIOS, masyarakat merasakan langsung kondisi perekonomian melalui kehidupan sehari-hari dan bukan sekadar membaca data statistik. Nailul Huda menerangkan bahwa dalam kurun waktu dua tahun terakhir, berbagai komponen ekonomi justru memperlihatkan tanda-tanda pelemahan yang nyata. Gejala-gejala tersebut meliputi perlambatan tingkat konsumsi masyarakat, lonjakan kasus pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor industri, serta semakin sulitnya akses bagi masyarakat untuk terserap ke dalam pasar kerja. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat, khususnya yang berada di kelas ekonomi bawah, tidak merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi kuat yang terus diklaim oleh pemerintah. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar di kalangan pengamat mengenai tujuan dan sasaran dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai saat ini, mengingat fundamental ekonomi di lapangan dinilai belum sejalan dengan informasi statistik yang dipublikasikan.

Ikuti goklik.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

PHKEkonomi IndonesiaApindoKetenagakerjaanBPS

Berita Terbaru Lainnya

KPK Laporkan 12 OTT dan Pemulihan Aset Negara Rp 229,81 Miliar pada Semester PertamaPenyelidikan Kasus TPPU Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, Kejagung Periksa Tujuh PerusahaanKawasan Industri Berpeluang Raih Pendapatan Tambahan Melalui Perdagangan KarbonTransformasi Digital UMKM, Perbandingan Metode Pembayaran Transfer Bank, E-Wallet, dan QRISKeuangan Ratusan Pemda Tersendat, Pemerintah Pastikan PPPK Aman dari PHKUpaya Perum Bulog Mengamankan Penyerapan Tebu Petani Blora di Tengah Pemulihan PT GMMKemenperin Ungkap Penurunan Pesanan B2B Jadi Penyebab PHK Pabrik Garmen di Jawa TengahPT Freeport Indonesia Kedepankan Etika Bisnis demi Wujudkan Produksi yang Aman dan Berkelanjutan

Paling Banyak Dibaca

Panduan Evaluasi Kesehatan Mental Peserta Internship Kedokteran, Belajar dari Temuan Kemenkes

Kesehatan

Panduan Evaluasi Kesehatan Mental Peserta Internship Kedokteran, Belajar dari Temuan Kemenkes

30 Jul 2026

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

Nasional

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

30 Jul 2026

Memahami Lonjakan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026

Ekonomi

Memahami Lonjakan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026

30 Jul 2026

Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Digelar di Berastagi Akhir Juli

Travel & Events

Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Digelar di Berastagi Akhir Juli

30 Jul 2026

Panduan Investasi Batam, Transformasi Menuju Pusat Teknologi Informasi dan Data Center

Ekonomi

Panduan Investasi Batam, Transformasi Menuju Pusat Teknologi Informasi dan Data Center

30 Jul 2026

Analisis Pergerakan IHSG dan Dinamika Pasar Saham di Bawah Level 6.100

Keuangan

Analisis Pergerakan IHSG dan Dinamika Pasar Saham di Bawah Level 6.100

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Panduan Evaluasi Kesehatan Mental Peserta Internship Kedokteran, Belajar dari Temuan KemenkesKesehatan 路 30 Jul 2026
  2. 2Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan MasyarakatNasional 路 30 Jul 2026
  3. 3Memahami Lonjakan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026Ekonomi 路 30 Jul 2026
  4. 4Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Digelar di Berastagi Akhir JuliTravel & Events 路 30 Jul 2026
  5. 5Panduan Investasi Batam, Transformasi Menuju Pusat Teknologi Informasi dan Data CenterEkonomi 路 30 Jul 2026
Lingkungan
Karier
Energi
Politik
Bisnis
Pariwisata
Travel & Events
Cuaca
Berita Daerah
Pemerintahan
Infrastruktur
Berita Nasional
Metro
Kebijakan Publik
Olahraga

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap