goklik.id
BerandaEkonomiKeuanganNasionalHukumInternasionalOtomotifNewsTeknologiHukum & KriminalPolitikBisnisOlahragaPopuler
Beranda/Nasional

Sensor pada Sirip Hiu Bantu Memprediksi Kekuatan Badai Laut

Agus KusumaDiterbitkan 10 Agu 2026 - 00.16 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Sensor pada Sirip Hiu Bantu Memprediksi Kekuatan Badai Laut
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Bagaimana cara kita mengetahui seberapa kuat badai yang akan menerjang suatu kawasan pesisir sebelum bencana itu tiba? Pertanyaan ini sering kali membayangi para ahli meteorologi yang terus berupaya meningkatkan akurasi prakiraan cuaca ekstrem. Kini, jawaban inovatif datang dari kedalaman samudra. Para peneliti dari University of Delaware (UD) sedang mengembangkan metode pengamatan laut yang tidak biasa, yaitu dengan memasang perangkat sensor pada tubuh hiu.

Metode ini dilakukan dengan menempatkan alat pemantau khusus guna mengumpulkan data penting dari kolom air yang sulit dijangkau oleh alat konvensional. Melalui pendekatan ini, para ilmuwan berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi bawah laut yang memicu lahirnya badai hebat. Berikut adalah beberapa pertanyaan penting yang merangkum bagaimana teknologi ini bekerja serta tantangan kelestarian hiu saat ini.

Mengapa kondisi suhu air laut sangat memengaruhi kekuatan badai?

goklik.id

Copyright 2026 goklik.id - All Rights Reserved.

Kategori

EkonomiKeuanganNasionalHukumInternasionalOtomotifNewsTeknologiHukum & KriminalPolitikBisnisOlahraga

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap

Suhu air laut memegang peran kunci dalam pembentukan dan intensitas badai. Air laut yang hangat bertindak sebagai bahan bakar yang memasok energi bagi sistem badai, sehingga dapat memicu penguatan badai secara cepat. Sebaliknya, keberadaan air yang lebih dingin di bawah permukaan dapat membatasi atau meredam penguatan badai tersebut. Oleh karena itu, mengetahui profil suhu air secara akurat dari berbagai kedalaman sangatlah krusial untuk memprediksi apakah suatu badai akan berkembang menjadi sangat merusak atau justru melemah sebelum mencapai daratan.

Bagaimana cara sensor yang dipasang pada hiu bekerja mengumpulkan data?

Para peneliti menggunakan perangkat sensor khusus yang dikenal sebagai CTD (conductivity, temperature, depth). Alat ini dirancang untuk merekam sejumlah parameter penting kondisi laut, yang meliputi suhu air, konduktivitas atau tingkat salinitas (kadar garam), serta kedalaman air tempat hiu tersebut berenang. Sensor CTD ini dipasang pada bagian sirip punggung hiu sebelum hewan tersebut dilepaskan kembali ke habitat aslinya di laut lepas. Ketika hiu berenang dan bergerak mendekati permukaan laut, data yang telah terekam oleh sensor akan dikirimkan secara otomatis melalui koneksi satelit langsung kepada tim peneliti untuk dianalisis.

Baca Juga

Harga Cabai Merah Kian Pedas, Nyaris Tembus Rp 60 Ribu per Kilogram

Harga Cabai Merah Kian Pedas, Nyaris Tembus Rp 60 Ribu per Kilogram

Apakah para ilmuwan mengamati perubahan perilaku hiu untuk memprediksi cuaca?

Tidak. Perlu dipahami bahwa penelitian ini sama sekali tidak berfokus pada perubahan perilaku atau kebiasaan bergerak dari hiu itu sendiri. Fokus utama dari metode ini adalah memanfaatkan hiu sebagai pembawa sensor seluler alami yang dapat menjelajahi area laut yang luas. Dengan kata lain, yang dimanfaatkan oleh para ilmuwan murni merupakan data kondisi fisik lingkungan laut yang terekam oleh sensor CTD, bukan pola pergerakan atau reaksi hiu terhadap badai yang akan datang.

Spesies hiu apa saja yang dilibatkan dalam proyek penelitian ini?

Penelitian yang dikembangkan oleh University of Delaware ini melibatkan beberapa spesies hiu tertentu yang dikenal memiliki pola migrasi dan jelajah yang luas. Beberapa spesies yang menjadi bagian aktif dari penelitian ini antara lain hiu mako sirip pendek (shortfin mako shark), hiu biru (blue shark), smooth hammerhead (hiu martil halus), serta hiu putih muda (juvenile white shark). Penggunaan spesies yang beragam ini memungkinkan pengumpulan data dari berbagai lapisan kedalaman dan wilayah perairan yang berbeda.

Di mana wilayah yang akan merasakan manfaat dari teknologi pemantauan ini?

Baca Juga

Fakta Lengkap Kebakaran di Mal Nipah Makassar dan Kondisi Terkini Pascapemadaman

Fakta Lengkap Kebakaran di Mal Nipah Makassar dan Kondisi Terkini Pascapemadaman

Penerapan teknologi sensor pada hiu ini memiliki potensi besar untuk membantu meningkatkan akurasi prakiraan intensitas badai, khususnya di sepanjang kawasan pesisir timur Amerika Serikat. Wilayah pesisir timur Amerika Serikat memang sering kali menjadi jalur lintasan badai tropis yang merusak, sehingga data real-time dari sensor hiu diharapkan dapat memberikan peringatan dini yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Walau demikian, efektivitas penuh dari metode ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat seberapa besar kontribusi data sensor hiu dalam model prakiraan cuaca jangka panjang.

Bagaimana status kelestarian hiu di tengah ancaman kerusakan lingkungan saat ini?

Meskipun hiu kini dapat membantu manusia dalam memprediksi badai, populasi mereka sendiri sedang menghadapi ancaman kepunahan yang sangat serius. Berbagai aktivitas manusia seperti penangkapan ikan secara berlebihan, polusi laut, serta kerusakan habitat laut yang masif telah mendorong sepertiga dari sekitar 500 spesies hiu di seluruh dunia ke ambang kepunahan. Selain itu, fenomena asidifikasi atau peningkatan kadar asam laut yang dipicu oleh tingginya emisi karbon dioksida (CO2) juga berdampak buruk bagi kesehatan hiu. Asidifikasi laut ini diketahui dapat merusak struktur gigi hiu serta mengganggu kemampuan alami mereka dalam berburu mangsa.

Apakah ada temuan penting terkait konservasi hiu yang baru-baru ini terjadi di Indonesia?

Di tengah ancaman global terhadap populasi hiu, terdapat kabar baik dari perairan Indonesia. Untuk pertama kalinya di wilayah Indonesia, para peneliti berhasil mengonfirmasi temuan langsung neonatal atau bayi hiu paus di alam liar. Bayi hiu paus yang ditemukan tersebut memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil untuk spesiesnya, yaitu hanya berkisar antara 135 hingga 145 sentimeter. Temuan ini menjadi momen penting bagi dunia konservasi laut nasional karena memberikan petunjuk baru mengenai area pembibitan alami hiu paus yang perlu dilindungi demi kelangsungan hidup spesies raksasa laut ini.

Ikuti goklik.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Berita Terbaru Lainnya

Harga Cabai Merah Kian Pedas, Nyaris Tembus Rp 60 Ribu per KilogramFakta Lengkap Kebakaran di Mal Nipah Makassar dan Kondisi Terkini PascapemadamanDampak Undang-Undang Keamanan Siber Baru Turki Bagi Pengguna InternetMengawal Usulan RUU Ketenagakerjaan Jelang Aksi Besar Buruh KSPN70 Persen Titik Api Karhutla Berada di Kawasan Konsesi PerusahaanKPK Geledah 15 Lokasi dan Sita Bukti Kasus Pemerasan Bupati Pemalang NonaktifPresiden Prabowo Siapkan Sejumlah Nama Calon Gubernur Bank IndonesiaCara Membersihkan Riwayat Kredit Buruk di SLIK OJK

Paling Banyak Dibaca

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

Nasional

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

30 Jul 2026

Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia Numan

Edukasi

Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia Numan

1 Agu 2026

Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang Nuklir

Nasional

Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang Nuklir

1 Agu 2026

Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasi

Keuangan

Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasi

1 Agu 2026

Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan Pembangunan

Nasional

Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan Pembangunan

4 Agu 2026

Jadwal Bola Malam Ini 1-2 Agustus 2026, Ada Piala AFF, Persija, dan Persebaya

Olahraga

Jadwal Bola Malam Ini 1-2 Agustus 2026, Ada Piala AFF, Persija, dan Persebaya

1 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan MasyarakatNasional 路 30 Jul 2026
  2. 2Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia NumanEdukasi 路 1 Agu 2026
  3. 3Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang NuklirNasional 路 1 Agu 2026
  4. 4Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasiKeuangan 路 1 Agu 2026
  5. 5Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan PembangunanNasional 路 4 Agu 2026