goklik.id
BerandaEkonomiKeuanganNasionalBeritaKriminalKesehatanPendidikanHukumBerita LokalInternasionalOtomotifNewsBerita UmumEkonomi & BisnisTeknologiHukum & KriminalLingkunganEnergiPolitikBisnisInfrastrukturBerita NasionalMetroOlahragaPropertiGaya HidupBerita UtamaEdukasiMegapolitanHiburanSportsMarketTravelPopuler
Beranda/Ekonomi

Perluasan Akses Pasar Dinilai Penting untuk Perkuat Investasi Sektor Protein Nasional

Togar PanjaitanDiterbitkan 7 Agu 2026 - 04.18 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Perluasan Akses Pasar Dinilai Penting untuk Perkuat Investasi Sektor Protein Nasional
Foto/Ilustrasi: ekonomi.republika.co.id.
A-A+

Jakarta menjadi saksi penyampaian pandangan strategis mengenai masa depan serta arah kebijakan pangan nasional pada hari Kamis, 6 Agustus 2026. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mengemukakan pandangannya secara mendalam mengenai urgensi pengembangan industri protein di Indonesia. Menurut penjelasan Panggah, upaya pengembangan industri protein nasional saat ini sudah seharusnya diarahkan pada pembukaan akses pasar yang jauh lebih luas dari sebelumnya. Langkah strategis berupa perluasan pasar ini dinilai menjadi salah satu instrumen paling krusial untuk memperkuat serta menarik arus investasi baru ke dalam sektor protein nasional secara berkelanjutan.

Dalam pemaparan lebih lanjut di Jakarta, Panggah Susanto memberikan perhatian khusus pada potret nyata dari struktur industri ayam di dalam negeri saat ini. Ia menjelaskan secara rinci bahwa industri tersebut sekarang hanya digerakkan oleh dua perusahaan besar saja. Kondisi ini menunjukkan adanya tingkat konsentrasi pasar yang sangat tinggi, di mana kedua korporasi raksasa tersebut mendominasi pasar domestik melalui investasi yang bersifat padat modal serta pemanfaatan teknologi tingkat tinggi. Keadaan dominasi ini memicu perlunya langkah-langkah terobosan agar struktur industri protein tidak melulu dikuasai oleh segelintir pelaku usaha besar dengan modal raksasa.

goklik.id

Copyright 2026 goklik.id - All Rights Reserved.

Kategori

EkonomiKeuanganNasionalBeritaKriminalKesehatanPendidikanHukumBerita LokalInternasionalOtomotifNewsBerita UmumEkonomi & BisnisTeknologiHukum & KriminalLingkunganEnergiPolitikBisnisInfrastrukturBerita NasionalMetroOlahragaPropertiGaya Hidup

Salah satu pendekatan konkret yang dinilai sangat efektif untuk mengatasi ketimpangan struktur pasar ini adalah dengan menerapkan pola kemitraan yang terstruktur dan inklusif. Melalui skema pola kemitraan tersebut, para peternak lokal di berbagai daerah dapat memperoleh akses langsung terhadap berbagai fasilitas penting yang selama ini sulit mereka jangkau secara mandiri. Fasilitas yang dimaksud meliputi penyediaan bibit unggul berkualitas tinggi, penerapan teknologi peternakan modern, kemudahan dalam memperoleh skema pembiayaan usaha, hingga adanya kepastian pasar untuk menyerap hasil produksi mereka. Dengan adanya jaminan kepastian ini, para peternak kecil tidak lagi berjalan sendiri dalam menghadapi risiko fluktuasi harga dan ketidakpastian pasar yang kerap merugikan keberlangsungan usaha peternakan mereka.

Baca Juga

Batas Maksimal 30 Persen Pendapatan Jadi Kunci Menjaga Cicilan Tetap Aman

Batas Maksimal 30 Persen Pendapatan Jadi Kunci Menjaga Cicilan Tetap Aman

Selain penguatan di tingkat peternak lokal melalui skema kemitraan, penguatan posisi Indonesia dalam kerja sama investasi internasional juga memerlukan strategi yang jauh lebih matang dan menguntungkan pihak domestik. Panggah Susanto mengusulkan bahwa pembentukan perusahaan patungan atau joint venture dapat menjadi opsi taktis yang sangat baik. Melalui model perusahaan patungan ini, Indonesia tidak hanya bertindak sebagai target pasar bagi produk asing, melainkan juga memiliki kesempatan nyata untuk menguasai kepemilikan saham (equity stake) serta menempatkan perwakilan formal dalam dewan direksi (board seat). Skema kepemilikan saham dan keterwakilan dewan direksi ini secara otomatis memberikan posisi tawar yang jauh lebih kuat bagi Indonesia dalam menentukan arah kebijakan operasional perusahaan patungan tersebut.

Pandangan mengenai perlunya reformasi menyeluruh di sektor protein ini sejalan dengan hasil kajian mendalam yang dirilis oleh Prasasti Center for Policy Studies. Lembaga kajian kebijakan tersebut menyatakan bahwa proses pengembangan sektor protein nasional ke depan tidak bisa lagi dijalankan secara terpisah berdasarkan komoditas tertentu saja secara parsial. Pendekatan sektoral konvensional yang berjalan sendiri-sendiri dinilai sudah tidak lagi relevan dan justru menghambat efisiensi serta daya saing industri pangan secara keseluruhan. Oleh sebab itu, Prasasti Center for Policy Studies merekomendasikan adanya pergeseran paradigma dari pendekatan komoditas tunggal menuju pembangunan ekosistem protein yang terintegrasi penuh dari hulu hingga ke hilir.

Prasasti Center for Policy Studies dalam kajiannya merinci secara detail bahwa pembangunan ekosistem protein yang kokoh harus mampu menghubungkan seluruh rantai nilai secara berkesinambungan tanpa terputus. Rantai nilai yang harus diintegrasikan tersebut meliputi penyediaan bibit dan benih yang berkualitas, ketersediaan pakan ternak yang terjangkau, jaminan kesehatan hewan, dukungan pembiayaan yang memadai bagi pelaku usaha, proses produksi yang efisien, pengolahan hasil produksi pascapanen, sistem logistik yang andal, jaringan distribusi yang merata, hingga terbukanya akses pasar yang kompetitif bagi semua pelaku industri. Integrasi dari seluruh elemen dalam rantai nilai ini menjadi syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan demi terciptanya ketahanan industri protein yang tangguh.

Baca Juga

Rencana Peluncuran Emas Digital Bank Jago dan Persetujuan Regulator

Rencana Peluncuran Emas Digital Bank Jago dan Persetujuan Regulator

Namun, kenyataan di lapangan saat ini menunjukkan bahwa berbagai subsektor protein di Indonesia masih berkembang secara terpisah satu sama lain. Akibat dari belum adanya keterpaduan ini adalah alokasi investasi, pembangunan infrastruktur pendukung, penerapan teknologi modern, serta sistem logistik nasional belum dapat terintegrasi secara optimal di seluruh wilayah. Ketimpangan integrasi antar-subsektor ini pada akhirnya menyebabkan tingginya biaya operasional logistik serta belum meratanya distribusi pasokan protein yang berkualitas ke berbagai daerah terpencil di Indonesia, meskipun potensi permintaan pasar di dalam negeri tergolong sangat besar.

Padahal, Prasasti Center for Policy Studies menilai bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal dasar yang sangat kuat dan melimpah untuk membangun industri protein yang kompetitif di tingkat regional maupun global. Modal besar tersebut didukung penuh oleh pasar domestik yang sangat luas serta ketersediaan sumber protein yang sangat beragam, baik yang berasal dari sektor peternakan, perikanan, hingga sumber protein nabati lainnya. Melalui integrasi kebijakan yang tepat, perluasan akses pasar yang agresif, serta penguatan kemitraan investasi melalui joint venture, Indonesia berpeluang besar untuk mentransformasi sektor protein menjadi pilar utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Ikuti goklik.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

InvestasiIndustri ProteinKemitraan PeternakPangan Nasional

Berita Terbaru Lainnya

Wacana Pilkada Tanpa Wakil Kepala Daerah Mengemuka di DPRDallas Mavericks Amankan Perpanjangan Kontrak Naji MarshallTantangan Menyelaraskan Pendidikan dengan Karier dan Kebutuhan KerjaProyek Off Ramp Ciawi Selatan Diharapkan Menjadi Solusi Kemacetan Arus Lalu Lintas BogorPeluang Usaha Tepung Mocaf untuk Pemberdayaan Ekonomi PerempuanPergerakan IHSG dan Faktor Utama yang Memengaruhi Pasar Saham DomestikKasus Perdagangan Orang ke Libya, Polda Metro Jaya Pulangkan Tiga Korban dan Tahan Dua TersangkaMenteri Kebudayaan Dorong Museum Pos Indonesia Menjadi Ruang Edukasi Modern

Paling Banyak Dibaca

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

Nasional

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

30 Jul 2026

Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang Nuklir

Nasional

Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang Nuklir

1 Agu 2026

Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasi

Keuangan

Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasi

1 Agu 2026

Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia Numan

Edukasi

Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia Numan

1 Agu 2026

Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan Pembangunan

Nasional

Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan Pembangunan

4 Agu 2026

Jadwal Bola Malam Ini 1-2 Agustus 2026, Ada Piala AFF, Persija, dan Persebaya

Olahraga

Jadwal Bola Malam Ini 1-2 Agustus 2026, Ada Piala AFF, Persija, dan Persebaya

1 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan MasyarakatNasional 路 30 Jul 2026
  2. 2Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang NuklirNasional 路 1 Agu 2026
  3. 3Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasiKeuangan 路 1 Agu 2026
  4. 4Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia NumanEdukasi 路 1 Agu 2026
  5. 5Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan PembangunanNasional 路 4 Agu 2026
Berita Utama
Edukasi
Megapolitan
Hiburan
Sports
Market
Travel

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap