Sebanyak 140 juta orang atau sekitar 57,2 persen dari total populasi muslim di Indonesia mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama (NU). Dengan basis massa yang sangat besar ini, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 menjadi agenda yang sangat krusial. Muktamar merupakan permusyawaratan tertinggi NU yang diselenggarakan setiap lima tahun. Forum ini akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Pertemuan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi ajang pemilihan kepengurusan baru, melainkan juga menegaskan kembali arah perjuangan organisasi.
Dalam sejarahnya, upaya mengembalikan organisasi pada fungsi sosial keagamaan yang murni telah melalui jalan panjang. Keputusan penting pernah diambil pada Muktamar Situbondo tahun 1984, di mana NU memutuskan untuk menarik diri dari politik praktis dan kembali ke khittah 1926. Perjalanan historis dan dinamika internal ini juga diulas oleh Martin van Bruinessen dalam bukunya yang terbit pada tahun 1994, berjudul 'NU: Tradisi Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Warna Baru'.
Memahami Persaingan Eksplorasi Kutub Selatan Bulan di Era Modern

Tantangan internal yang dihadapi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini turut memperkuat urgensi pembenahan organisasi. PBNU tengah diterpa konflik internal yang melibatkan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar. Ketegangan ini memicu berbagai kekhawatiran mengenai arah masa depan organisasi. Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, sebuah serial diskusi bertema 'Stop Politik Transaksional di Muktamar NU' diselenggarakan di Jakarta Pusat pada Selasa, 18 Agustus 2026. Diskusi publik mengenai arah NU ini bergulir di tengah lanskap perpolitikan yang juga kerap diamati oleh berbagai lembaga, termasuk Parameter Politik Indonesia (PPI) dengan Adi Prayitno sebagai Direktur.
Di sisi lain, komposisi warga NU yang sangat besar memerlukan pendekatan kepemimpinan yang representatif. Terkait pemetaan warga, tokoh seperti Hasanuddin Ali memiliki kapasitas yang relevan sebagai Ketua PBNU sekaligus pendiri Alvara Research. Berdasarkan sebuah survei, dari total warga yang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari NU, kelompok NU kultural menempati porsi terbesar yakni mencapai 39 persen. Sementara itu, kelompok yang dikategorikan sebagai 'Nahdliyin inti' hanya berjumlah 9 persen. Perbedaan komposisi antara warga kultural dan struktural ini menuntut kepengurusan hasil Muktamar nanti untuk mampu merangkul seluruh lapisan jamaah secara efektif.
Pemulihan Dokumen Kependudukan dan Surat Tanah bagi Warga Terdampak Gempa di NTT

Untuk menjawab tantangan zaman yang kian kompleks, NU telah menyusun sebuah peta jalan (roadmap) selama 25 tahun ke depan. Peta jalan ini dirancang untuk merespons dinamika sosial modern dengan memasukkan isu-isu terkait generasi muda, perkotaan, kelas menengah, sampai emansipasi perempuan. Dengan agenda jangka panjang yang telah terstruktur tersebut, pelaksanaan Muktamar ke-35 di Jombang mendatang diharapkan mampu menyelaraskan kembali gerak organisasi agar terbebas dari tarikan politik jangka pendek dan fokus pada pelayanan umat sesuai khittah pendiriannya.






