Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dalam menata industri pertambangan timah nasional dengan menetapkan target untuk menutup kurang lebih 1.000 lokasi penambangan tanpa izin di wilayah Bangka Belitung. Langkah penertiban ini menjadi krusial mengingat skala aktivitas penambangan ilegal yang sangat masif. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memperkirakan bahwa aktivitas pertambangan di luar sistem resmi atau shadow mining ini dapat menguasai sekitar 80 persen dari total produksi timah di wilayah tersebut. Selain itu, Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan bahwa hingga 12.000 ton timah diekspor secara ilegal setiap tahunnya. Kondisi ini sebelumnya menekan kinerja produsen resmi akibat ketatnya persaingan dengan penambang ilegal.
Bagi PT Timah Tbk (TINS), maraknya penambangan tanpa izin tersebut diakui manajemen sebagai salah satu faktor utama yang menekan volume produksi perseroan. Namun, seiring dengan penegakan hukum yang kian intensif, peta jalan produksi perseroan mulai menunjukkan pemulihan yang signifikan. Pada Semester I 2026, produksi bijih timah TINS tercatat mencapai 12.232 ton Sn. Capaian ini mencerminkan peningkatan sekitar 75 persen dibandingkan dengan periode Semester I 2025 yang berada pada angka 6.997 ton Sn. Sejalan dengan itu, produksi logam timah dari TINS turut bertambah menjadi 10.865 metrik ton.
Kenaikan volume produksi ini langsung berimbas positif pada volume perdagangan perseroan di pasar global. Sepanjang Semester I 2026, penjualan logam timah TINS menyentuh angka 10.984 metrik ton. Angka penjualan ini melompat sekitar 85 persen jika dibandingkan dengan Semester I 2025 yang tercatat di level 5.933 metrik ton. Peningkatan volume penjualan yang dikombinasikan dengan kembalinya pasokan ke rantai resmi berhasil mendongkrak pendapatan perseroan secara signifikan. TINS membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun pada Semester I 2026, tumbuh 147 persen dibandingkan perolehan Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peran Pegadaian sebagai Penyedia Aset Dasar ETF Emas di Indonesia

Pertumbuhan kinerja operasional ini kian solid berkat dukungan pergerakan harga komoditas global yang tinggi. Rata-rata harga timah di London Metal Exchange (LME) pada Semester I 2026 bertengger di level 50.319 dolar AS per metrik ton, mengalami kenaikan sebesar 56,7 persen dari posisi Semester I 2025 yang berada di angka 32.116 dolar AS per metrik ton. Sinergi antara peningkatan produksi dalam negeri dan tingginya harga global ini mendorong lonjakan laba bersih TINS hingga sekitar 805 persen menjadi Rp2,71 triliun pada Semester I 2026, melesat dari Rp300 miliar pada Semester I 2025. Realisasi laba bersih ini bahkan telah melampaui target setahun penuh perseroan untuk tahun 2026, mencapai sekitar 169 persen dari target awal yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun.
Kinerja keuangan yang impresif ini turut mengubah persepsi pelaku pasar terhadap fundamental perusahaan. Kapitalisasi pasar TINS melesat dari sekitar Rp7,6 triliun pada Agustus 2025 menjadi sekitar Rp28,75 triliun pada Agustus 2026. Analisis rasio keuangan perseroan menunjukkan indikator yang kuat, dengan price to earnings ratio (PER) berada di sekitar 4,49 kali. Selain itu, perusahaan mencatatkan net profit margin di kisaran 26 persen serta return on equity (ROE) mencapai sekitar 51 persen.
OJK Kaji Skema Wakaf Saham Masjid Istiqlal di Ekosistem Pasar Modal

Melihat perkembangan fundamental tersebut, Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee merekomendasikan saham TINS pada posisi buy dengan target harga berkisar antara Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. Prospek komoditas ini juga ditopang oleh tren teknologi global, di mana meningkatnya kebutuhan timah untuk industri semikonduktor dan kecerdasan buatan dinilai akan terus menjaga kekuatan permintaan pasar di masa mendatang. Pemulihan produksi serta potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal menjadi fondasi penting bagi prospek positif perseroan.






