Hobi masa kecil yang ditekuni kembali dapat membawa konsekuensi finansial serta personal yang sangat besar apabila dilakukan tanpa kendali. Pengalaman pahit ini dialami oleh Sean Harding, seorang akuntan yang kini berusia 45 tahun. Setelah memutuskan untuk kembali menekuni hobi masa kecilnya dalam mengumpulkan kartu bisbol melalui aplikasi belanja langsung Whatnot, Harding justru terjerat dalam pengeluaran yang tidak terkontrol. Hanya dalam waktu empat bulan saja, Sean Harding mengaku telah menghabiskan dana hingga hampir 1,4 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp23 miliar. Keputusannya untuk menggelontorkan uang miliaran rupiah demi koleksi kartu tersebut berujung fatal pada keretakan rumah tangganya. Saat sang istri akhirnya mengetahui total pengeluaran fantastis tersebut, ia tidak tinggal diam dan langsung mengajukan gugatan cerai.
Whatnot yang menjadi wadah transaksi tersebut merupakan sebuah platform belanja langsung atau live shopping yang baru berusia tujuh tahun. Meskipun relatif baru di industri perdagangan digital, platform ini telah tumbuh menjadi salah satu platform belanja dengan pertumbuhan paling cepat di Amerika Serikat. Kepemimpinan perusahaan ini berada di bawah arahan Grant LaFontaine, yang bertindak sebagai CEO sekaligus salah satu pendiri Whatnot. Kiprah bisnis platform ini terus melonjak tajam dari waktu ke waktu. Sepanjang tahun 2025 saja, Whatnot mengaku telah berhasil menambah 20 juta akun baru ke dalam platform mereka. Tidak hanya itu, Whatnot bahkan mengklaim telah menguasai hampir 60 persen dari keseluruhan pasar live commerce di kawasan Amerika Utara dan Eropa.








