Kondisi fasilitas pendidikan yang kurang memadai sering kali memaksa para siswa untuk mengambil tindakan sendiri demi kenyamanan belajar. Di Kabupaten Bandung Barat, inisiatif mandiri ditunjukkan oleh sejumlah murid yang bergotong royong memperbaiki ruang belajar mereka. Kisah siswa SMP di Bandung Barat patungan perbaiki sekolah ini menjadi cermin nyata dari kondisi sarana prasarana sekolah yang membutuhkan perhatian segera dari pihak berwenang.
Kerusakan di SMP Negeri 2 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, mencakup berbagai fasilitas vital di dalam kelas. Kerusakan terlihat jelas di beberapa bagian, mulai dari tembok yang retak dan mengelupas, papan tulis yang jebol, kaca jendela yang pecah, plafon yang rusak, hingga lampu penerangan yang mati. Masalah ketiadaan lampu ini membuat ruang kelas menjadi gelap di pagi hari, mengganggu kenyamanan siswa saat memulai pelajaran. Menurut kesaksian salah seorang siswi kelas VIII berinisial R, kerusakan pada dinding dan papan tulis tersebut bahkan sudah terjadi sejak pertama kali ia masuk sekolah.
Menghadapi kondisi ruang belajar yang tidak kunjung membaik, para siswa memutuskan untuk mengambil inisiatif sendiri. Menggunakan uang kas kelas yang mereka kumpulkan secara sukarela, para siswa membeli bahan bangunan seperti semen dan pasir. Biaya yang dihabiskan untuk membeli bahan-bahan tersebut mencapai lebih dari Rp100 ribu. Tidak hanya mendanai pembelian bahan secara mandiri, proses pengerjaan fisik mulai dari menambal tembok hingga mengecat ulang seluruh ruangan juga dikerjakan langsung oleh tangan-tangan para siswa itu sendiri. Langkah mandiri ini terpaksa diambil karena menurut siswa lain berinisial M, permintaan perbaikan sudah diajukan beberapa kali namun belum juga direalisasikan.
IHSG Melonjak 1,12 Persen ke 6.465, Ini 5 Saham yang Ikut Melesat

Pihak berwenang sendiri sebenarnya telah mengetahui kondisi kerusakan ini. Kepala Seksi Kelembagaan, Sarana, dan Prasarana SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, Acon Supriatna, membenarkan adanya kerusakan fasilitas belajar di SMP Negeri 2 Ngamprah. Sebagai tindak lanjut administratif, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat menyatakan telah mengusulkan program rehabilitasi untuk 29 ruang kelas di sekolah tersebut.
Proses pengajuan bantuan perbaikan ini mengikuti alur birokrasi yang cukup panjang. Usulan rehabilitasi tersebut telah diajukan sejak tahun 2025 dengan harapan bisa memperoleh bantuan perbaikan pada tahun 2026. Sebagai bagian dari prosedur verifikasi, tim dari kementerian terkait bersama kepala sekolah juga telah melakukan survei langsung ke lokasi untuk meninjau tingkat kerusakan ruang kelas.
Proyeksi Pergerakan IHSG Usai BI Pertahankan Suku Bunga di Level 5,75 Persen

Kendati survei telah selesai dilakukan, realisasi anggaran perbaikan fisik sekolah ini masih sepenuhnya bergantung pada program yang diturunkan oleh pemerintah pusat. Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat memproyeksikan dan berharap rehabilitasi menyeluruh terhadap ruang-ruang kelas tersebut baru dapat terlaksana pada tahun 2027. Jeda waktu yang panjang antara pengajuan usulan hingga rencana realisasi anggaran ini menjelaskan alasan mengapa para siswa akhirnya memilih untuk patungan secara mandiri demi mendapatkan kenyamanan ruang belajar yang layak dalam waktu singkat.






