Penanganan pascagempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berjalan dengan fokus utama pada keselamatan warga yang terdampak. Pada hari Kamis (20/8), tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi seorang warga lanjut usia (lansia) dari sebuah tenda mandiri yang didirikan oleh warga di Ronting, Kabupaten Manggarai Timur. Lansia tersebut segera dipindahkan dan dibawa menuju posko kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan. Operasi penyelamatan oleh tim SAR gabungan ini memang memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan, terutama para lansia di wilayah Manggarai Timur, guna memastikan mereka mendapatkan perlindungan serta pelayanan kesehatan yang memadai setelah bencana terjadi.
Selain evakuasi lansia di Ronting, upaya penyelamatan terhadap kelompok rentan lainnya juga dilakukan di wilayah lain di Manggarai Timur. Petugas mengevakuasi seorang ibu hamil menuju Posko Kesehatan Kementerian Kesehatan yang berlokasi di Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Sementara itu, kondisi di wilayah lain menunjukkan bahwa dampak gempa masih sangat dirasakan oleh warga. Lima hari pascagempa yang mengguncang wilayah Lembor, warga Desa Pondo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan masih bertahan di tenda-tenda darurat untuk berlindung.
Operasi penyelamatan dan penanganan dampak gempa oleh tim SAR ini mencakup wilayah yang cukup luas di Pulau Flores. Beberapa wilayah yang menjadi fokus operasi SAR saat ini meliputi Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, hingga Kabupaten Nagekeo. Dalam menjalankan tugasnya di lapangan, para petugas SAR terus berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah setempat, serta posko kesehatan yang didirikan oleh Kementerian Kesehatan demi kelancaran proses penanganan darurat.
Dampak Kabut Asap Karhutla Kalimantan Terhadap Kualitas Udara di Sarawak

Kesiapsiagaan seluruh personel SAR juga ditegaskan oleh otoritas terkait demi mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan. Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyatakan bahwa seluruh unsur SAR hingga saat ini masih dalam kondisi siaga. Kondisi siaga ini dijaga agar seluruh tim dapat bergerak cepat dan merespons dengan segera setiap laporan maupun permintaan bantuan yang datang dari masyarakat yang terdampak gempa di berbagai lokasi.
Di sisi pelayanan medis, penanganan terhadap para korban gempa bumi menghadapi tantangan yang cukup berat. Perawatan bagi para korban gempa di RSUD dr. Ben Mboy Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, terpaksa harus berlangsung dalam kondisi yang serba terbatas. Keterbatasan ini disebabkan oleh minimnya stok obat-obatan serta terbatasnya ketersediaan alat-alat kesehatan yang ada di rumah sakit tersebut, sehingga proses perawatan pasien terdampak gempa harus disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia.
Jakarta Bidik Operasional 10.000 Bus Elektrik pada 2030

Meskipun penanganan medis menghadapi keterbatasan pasokan obat dan alat kesehatan, kebutuhan pangan dasar bagi para korban gempa dipastikan tetap terpenuhi dengan baik. Kementerian Pertanian memberikan jaminan bahwa ketersediaan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, berada dalam kondisi yang aman. Jaminan pasokan beras ini diharapkan dapat membantu meringankan beban warga yang masih mengungsi maupun yang sedang menjalani masa pemulihan pascabencana.






