Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kalimantan, Indonesia, kembali membawa dampak buruk yang signifikan bagi negara tetangga. Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran lahan tersebut kini dilaporkan telah menyelimuti wilayah Sarawak, Malaysia, dan memengaruhi kualitas udara di sana secara drastis. Masalah asap lintas batas ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kesehatan masyarakat di wilayah terdampak serta menurunkan kualitas udara ke tingkat yang mengkhawatirkan.
Pada Kamis (20/8) siang, situasi kualitas udara di Sarawak menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berdasarkan data resmi yang dirilis, sebanyak enam wilayah di Sarawak mencatat indeks polusi udara (API) yang masuk dalam kategori tidak sehat. Angka indeks polusi udara di wilayah-wilayah tersebut berada di kisaran antara 125 hingga 191. Daerah Serian dilaporkan mencatatkan kualitas udara paling buruk di seluruh Sarawak dengan angka API mencapai 191. Selain Serian, wilayah Kuching juga mengalami kondisi serupa dengan tingkat API yang menyentuh angka 188, diikuti oleh wilayah Sri Aman yang mencatatkan indeks API sebesar 178.
Jakarta Bidik Operasional 10.000 Bus Elektrik pada 2030

Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak (NREB) secara resmi menyatakan bahwa kabut asap yang menyelimuti Sarawak tersebut berasal dari kawasan Kalimantan Barat, Indonesia. Pernyataan dari NREB ini diperkuat oleh hasil pemantauan dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC). Pihak ASMC mengamati adanya pergerakan asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat yang berasal dari wilayah Kalimantan Barat. Asap karhutla tersebut terpantau bergerak ke arah utara dan memasuki sejumlah wilayah di Sarawak bagian barat. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali pada bulan Agustus, sebab sebelumnya pada hari Rabu (12/8) pagi, sebanyak sembilan wilayah di Sarawak juga dilaporkan mencatat kualitas udara yang tidak sehat akibat kiriman kabut asap lintas batas yang sama.
Tingginya tingkat polusi udara di Sarawak ini berbanding lurus dengan banyaknya titik panas yang terdeteksi di wilayah Indonesia. Sepanjang periode tanggal 1 hingga 19 Agustus, ASMC mendeteksi sebanyak 7.286 titik panas di wilayah Kalimantan. Jumlah titik panas yang sangat masif di Kalimantan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di Sarawak, di mana ASMC hanya mendeteksi sebanyak 148 titik panas pada periode waktu yang sama. Mengingat kondisi udara yang kian memburuk akibat kiriman kabut asap ini, Pemerintah Sarawak segera mengeluarkan imbauan kepada seluruh warganya. Masyarakat setempat diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga asupan cairan tubuh dengan baik, serta selalu memakai masker ketika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah.
Gempa Flores, Evakuasi Lansia ke Posko Kesehatan dan Penanganan Darurat

Dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Malaysia, melainkan juga dialami oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia sendiri. Di Kalimantan






