goklik.id
BerandaEkonomiKeuanganNasionalBeritaKriminalKesehatanPendidikanLayanan PublikHukumBerita LokalInternasionalOtomotifNewsBerita UmumEkonomi & BisnisKeamananPertanianSosial & KeluargaKulinerHumanioraTeknologiSains & TeknologiHukum & KriminalKetenagakerjaanRegionalLingkunganKarierEnergiPolitikBisnisPariwisataTravel & EventsCuacaBerita DaerahPemerintahanInfrastrukturBerita NasionalMetroKebijakan PublikOlahragaPopuler
Beranda/Gaya Hidup

Dampak Budaya Fast Content pada Otak Manusia dan Cara Mengatasinya

Yohanes IpoiDiterbitkan 31 Jul 2026 - 02.21 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Dampak Budaya Fast Content pada Otak Manusia dan Cara Mengatasinya
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Apakah Anda sering mempercepat durasi video saat menonton tayangan di internet? Jika iya, Anda tentu tidak sendirian dalam melakukan kebiasaan tersebut. Fenomena ini merupakan bagian dari budaya konten cepat atau yang sering disebut sebagai "fast content", yang kini tengah menjamur dan menjadi kebiasaan baru di tengah masyarakat modern. Berdasarkan sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga riset Cross Marketing, tercatat sebanyak 47 persen orang kini sudah terbiasa melakukan kebiasaan menonton video dengan menggunakan mode dipercepat. Kecepatan konsumsi informasi yang begitu tinggi ini secara perlahan-lahan mulai mengubah cara kita menikmati sebuah karya, sehingga membuat konten yang berdurasi panjang sering kali terasa sangat membosankan dan terlalu lambat untuk diikuti secara utuh.

Menyadari rentang perhatian audiens yang semakin memendek, para pembuat konten pun terus memutar otak untuk mempertahankan penonton. Di berbagai platform media sosial

goklik.id

Copyright 2026 goklik.id - All Rights Reserved.

Kategori

EkonomiKeuanganNasionalBeritaKriminalKesehatanPendidikanLayanan PublikHukumBerita LokalInternasionalOtomotifNewsBerita UmumEkonomi & BisnisKeamananPertanianSosial & KeluargaKulinerHumanioraTeknologiSains & TeknologiHukum & KriminalKetenagakerjaanRegional
populer seperti TikTok atau Reels, para kreator sengaja menerapkan trik membelah layar video menjadi dua bagian atau lebih. Strategi memecah fokus visual ini secara khusus diterapkan agar mata penonton tidak mudah merasa bosan, sehingga mereka tidak langsung menggeser layar atau mencari video lain yang dirasa lebih menarik. Sayangnya, paparan konten pendek yang terlalu intensif dan terus-menerus ini membawa dampak yang kurang baik bagi kesehatan mental. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa terlalu sering menonton video berdurasi pendek dapat membuat bagian-bagian tertentu pada otak manusia menjadi sangat hiperaktif. Pada akhirnya, kondisi tersebut memicu seseorang untuk menjadi jauh lebih impulsif dan mengalami kesulitan yang signifikan ketika harus berpikir secara jangka panjang.

Perubahan perilaku dalam mengonsumsi media ini sangat erat kaitannya dengan respons neurologis atau cara kerja otak kita saat berinteraksi dengan teknologi digital. Profesor David M. Levy dari Universitas Washington memaparkan bahwa saat ini otak manusia mulai mengalami sebuah kondisi yang dikenal dengan sebutan "popcorn brain". Istilah ini secara harfiah menggambarkan rentang perhatian kita yang menjadi sangat mudah meletup-letup dan terus meloncat dari satu hal ke hal lainnya tanpa henti, layaknya biji jagung yang sedang dipanaskan. Setiap kali kita melakukan aktivitas menggulirkan layar gawai, otak kita akan merespons dengan melepaskan sedikit zat kimia yang bernama dopamin. Pelepasan dopamin yang terjadi secara berulang-ulang inilah yang memicu rasa senang sesaat, yang pada akhirnya menimbulkan efek ketagihan untuk terus mencari stimulus baru secara cepat.

Baca Juga

Penahanan Empat Tersangka Kasus Korupsi Asuransi Jasindo oleh KPK

Penahanan Empat Tersangka Kasus Korupsi Asuransi Jasindo oleh KPK

Penurunan tingkat konsentrasi ini juga didukung oleh data penelitian komprehensif yang menunjukkan kemerosotan fokus secara drastis dalam dua dekade terakhir. Merujuk pada data riset yang dipimpin oleh Profesor Gloria Mark dari University of California, pada tahun 2004 rata-rata orang masih mampu mempertahankan fokus penuh ketika berada di depan satu layar selama 2,5 menit. Namun, kemampuan fokus tersebut merosot sangat tajam hingga rata-rata kini hanya tersisa 43 detik saja. Kondisi ini bahkan jauh lebih memprihatinkan jika kita melihat pada kelompok usia yang lebih muda. Bagi kelompok anak muda, batas kesabaran untuk melihat satu unggahan di media sosial bahkan hanya mampu bertahan di kisaran waktu 4 sampai 6 detik saja sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk beralih ke konten berikutnya.

Ketergantungan yang tinggi pada gawai pintar ini juga tecermin dengan sangat jelas dari kebiasaan harian yang kita lakukan. Secara rata-rata, orang bisa memeriksa ponsel mereka hingga mencapai 96 kali dalam sehari, atau setara dengan hampir setiap 10 menit sekali. Angka ini secara gamblang menunjukkan betapa rentannya konsentrasi kita untuk terpecah oleh gangguan eksternal. Padahal, ketika fokus kita sudah terganggu oleh hadirnya sebuah notifikasi, otak membutuhkan waktu pemulihan yang sama sekali tidak sebentar untuk bisa kembali bekerja secara optimal. Diperkirakan kita membutuhkan waktu sekitar 26 menit penuh agar seseorang bisa benar-benar kembali memusatkan fokus pada pekerjaan atau tugas awal yang sedang dikerjakan.

Baca Juga

Memetakan Peluang Kerja dan Investasi Melalui Data 152 Industri Baru Kemenperin

Memetakan Peluang Kerja dan Investasi Melalui Data 152 Industri Baru Kemenperin

Meskipun tantangan yang dihadapi cukup besar, konten berdurasi pendek ternyata tidak sepenuhnya mematikan minat masyarakat terhadap sebuah karya yang panjang. Data dari YouGov menunjukkan sebuah fakta yang cukup menarik, di mana 87 persen penonton muda pada akhirnya memutuskan untuk menonton sebuah film atau serial secara utuh setelah mereka melihat potongan klip pendeknya terlebih dahulu di media sosial. Hal ini membuktikan bahwa selalu ada ruang untuk kembali menikmati karya yang mendalam. Untuk menjaga kesehatan mental sekaligus melatih kembali rentang fokus kita yang kian memudar, pakar stres dari Harvard, Dr. Aditi Nerurkar, membagikan sebuah trik yang cukup asyik untuk dipraktikkan. Ia menyarankan untuk mulai membatasi aktivitas menggulirkan media sosial maksimal 20 menit saja, yang dilakukan cukup dua kali dalam sehari.

Selain membatasi waktu layar, Dr. Aditi Nerurkar juga memberikan panduan tambahan mengenai manajemen perangkat. Langkah penting lainnya adalah dengan mematikan semua notifikasi aplikasi yang dianggap tidak penting atau tidak mendesak. Saat sedang mengerjakan tugas kampus atau pekerjaan lainnya, biasakanlah untuk meletakkan ponsel sejauh tiga meter dari meja belajar agar tidak mudah dijangkau oleh tangan. Dan yang paling krusial untuk menjaga kualitas istirahat, jangan pernah menaruh ponsel di meja yang berada di sebelah kasur pada saat Anda bersiap untuk tidur malam. Dengan menerapkan langkah-langkah pembatasan ini, kita dapat kembali melatih otak untuk menahan diri dari godaan konten instan dan perlahan-lahan mengembalikan kemampuan fokus kita yang sempat hilang.

Ikuti goklik.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Media Sosialkesehatan mentalfokusteknologiperilaku

Berita Terbaru Lainnya

Industri Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif di Tengah Ketidakpastian GlobalBapanas Cabut Izin Edar Beras Fortifikasi dan Berklaim Gizi yang Tak Penuhi SyaratStrategi Mendagri Mengoptimalkan Layanan Publik dan Kapasitas Kepala DaerahLangkah Pertamina Perkuat Aspek ESG demi Transformasi Bisnis BerkelanjutanPenahanan Empat Tersangka Kasus Korupsi Asuransi Jasindo oleh KPKMemetakan Peluang Kerja dan Investasi Melalui Data 152 Industri Baru KemenperinSidang Kasus PT DSI, Eks Direktur Sampaikan Eksepsi dan Batasan Tanggung Jawab OperasionalPresiden Prabowo di Batang, Ingatkan Perwira Jangan Jadi Jenderal Salon dan Resmikan Program KPR Subsidi Rp 880 Miliar

Paling Banyak Dibaca

Panduan Evaluasi Kesehatan Mental Peserta Internship Kedokteran, Belajar dari Temuan Kemenkes

Kesehatan

Panduan Evaluasi Kesehatan Mental Peserta Internship Kedokteran, Belajar dari Temuan Kemenkes

30 Jul 2026

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

Nasional

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

30 Jul 2026

Memahami Lonjakan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026

Ekonomi

Memahami Lonjakan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026

30 Jul 2026

Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Digelar di Berastagi Akhir Juli

Travel & Events

Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Digelar di Berastagi Akhir Juli

30 Jul 2026

Panduan Investasi Batam, Transformasi Menuju Pusat Teknologi Informasi dan Data Center

Ekonomi

Panduan Investasi Batam, Transformasi Menuju Pusat Teknologi Informasi dan Data Center

30 Jul 2026

Analisis Pergerakan IHSG dan Dinamika Pasar Saham di Bawah Level 6.100

Keuangan

Analisis Pergerakan IHSG dan Dinamika Pasar Saham di Bawah Level 6.100

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Panduan Evaluasi Kesehatan Mental Peserta Internship Kedokteran, Belajar dari Temuan KemenkesKesehatan 路 30 Jul 2026
  2. 2Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan MasyarakatNasional 路 30 Jul 2026
  3. 3Memahami Lonjakan Investasi Kota Batam pada Semester I 2026Ekonomi 路 30 Jul 2026
  4. 4Festival Bunga dan Buah Karo 2026 Digelar di Berastagi Akhir JuliTravel & Events 路 30 Jul 2026
  5. 5Panduan Investasi Batam, Transformasi Menuju Pusat Teknologi Informasi dan Data CenterEkonomi 路 30 Jul 2026
Lingkungan
Karier
Energi
Politik
Bisnis
Pariwisata
Travel & Events
Cuaca
Berita Daerah
Pemerintahan
Infrastruktur
Berita Nasional
Metro
Kebijakan Publik
Olahraga

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap