Sejarah salah satu produsen kopi terbesar di Indonesia bermula pada dekade 1920-an, ketika seorang pendatang asal Fujian, China, bernama Go Soe Loet tiba di Surabaya. Di kota pelabuhan tersebut, ia mulai merintis usaha kopi rumahan. Langkah awalnya tidaklah mudah karena ia harus berhadapan dengan banyak pesaing lokal. Persaingan ketat yang dihadapi Go Soe Loet pada masa-masa awal ini turut dicatat oleh Muhammad Ma'ruf dalam bukunya yang berjudul 50 Great Business Ideas From Indonesia terbitan tahun 2010.
Demi menyiasati persaingan yang sengit, Go Soe Loet memutar otak untuk membedakan produk kopinya dari produk kompetitor. Ia memilih untuk mengemas kopinya menggunakan kertas berwarna cokelat dengan merek HAP Hootjan. Nama merek tersebut memiliki arti "Kapal Api", sebuah penamaan yang diilhami oleh pengalaman pribadinya saat melakukan perjalanan migrasi menuju Pulau Jawa menggunakan kapal bertenaga uap.
Memasuki era 1970-an, tongkat estafet bisnis mulai beralih ketika anak Go Soe Loet yang bernama Go Tek Whie dilibatkan dalam pengelolaan usaha keluarga. Go Tek Whie, yang kemudian lebih dikenal luas dengan nama Soedomo Mergonoto, mengambil langkah besar dengan mengubah nama merek dagang produk mereka menjadi Kapal Api. Demi memodernisasi produksi, Soedomo melakukan perjalanan ke Jerman untuk mendatangi pameran mesin pengolah kopi. Di sana, ia tertarik pada sebuah mesin modern, namun harganya sangat tinggi untuk ukuran saat itu, yakni mencapai Rp 123 juta.








