goklik.id
BerandaEkonomiKeuanganNasionalHukumInternasionalOtomotifNewsTeknologiHukum & KriminalPolitikBisnisOlahragaPopuler
Beranda/Teknologi

Bulan Menjauh 3,8 Sentimeter per Tahun, Apa Dampaknya bagi Bumi?

Yohanes IpoiDiterbitkan 9 Agu 2026 - 12.27 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Bulan Menjauh 3,8 Sentimeter per Tahun, Apa Dampaknya bagi Bumi?
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Sebanyak 3,8 sentimeter per tahun menjadi angka rata-rata pergeseran Bulan yang bergerak semakin menjauh dari planet kita. Angka ini mungkin terdengar kecil, namun pergeseran yang konstan tersebut menyimpan riwayat panjang interaksi kosmik antara Bumi dan satelit alaminya. Saat ini, jarak rata-rata yang memisahkan Bumi dan Bulan berada di angka 385.000 kilometer. Jika dihitung secara persentase, penambahan jarak sejauh 3,8 sentimeter itu hanya mewakili sekitar 0,00000001 persen dari total jarak Bumi-Bulan setiap tahunnya. Meskipun dampaknya tidak langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini memicu berbagai pertanyaan mengenai masa lalu dan masa depan tempat tinggal kita.

Mengapa Bulan perlahan-lahan menjauh dari Bumi?

Fenomena pergerakan ini dipicu oleh adanya interaksi gravitasi dan tarikan gaya pasang surut antara planet kita dan Bulan. Gaya tarik menarik tersebut menciptakan efek gesekan pasang surut yang secara bertahap mentransfer energi putaran Bumi ke orbit Bulan. Proses inilah yang pada akhirnya mendorong satelit alami tersebut untuk bergerak menuju lintasan orbit yang lebih tinggi dan lebih jauh.

goklik.id

Copyright 2026 goklik.id - All Rights Reserved.

Kategori

EkonomiKeuanganNasionalHukumInternasionalOtomotifNewsTeknologiHukum & KriminalPolitikBisnisOlahraga

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap

Bagaimana para ilmuwan mengukur perubahan jarak yang sangat kecil ini?

Pengukuran presisi terhadap posisi Bulan dilakukan menggunakan teknologi laser khusus. Sinar laser ditembakkan dari Bumi untuk kemudian dipantulkan kembali oleh cermin-cermin yang sengaja ditempatkan di permukaan Bulan. Perangkat pemantul tersebut dipasang oleh para astronaut dan tim dari berbagai misi antariksa yang pernah mendarat di sana. Dengan menghitung waktu tempuh bolak-balik sinar laser, para peneliti mampu menentukan fluktuasi jarak Bulan secara sangat akurat hingga tingkat sentimeter.

Baca Juga

Penyelidikan Kematian Sutrimo, Langkah Hukum Keluarga dan Proses Kepolisian

Penyelidikan Kematian Sutrimo, Langkah Hukum Keluarga dan Proses Kepolisian

Bagaimana kondisi jarak Bulan di masa lampau?

Ketika Bulan pertama kali terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, posisinya diyakini jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan dengan kondisinya saat ini. Jarak yang lebih dekat tersebut memengaruhi lamanya waktu satu hari di Bumi. Penelitian terhadap fosil cangkang kerang membuktikan bahwa pada era dinosaurus sekitar 70 juta tahun silam, durasi satu hari di Bumi hanya memakan waktu 23,5 jam. Hal ini menegaskan bahwa rotasi Bumi pada masa lampau berlangsung lebih cepat akibat kedekatan posisi Bulan.

Apa dampak jangka panjang dari fenomena ini bagi Bumi?

Dalam skala waktu kosmik yang sangat panjang, pergeseran orbit ini akan terus berlanjut. Diperkirakan dalam kurun waktu sekitar satu miliar tahun ke depan, Matahari akan menjadi semakin terang. Peningkatan intensitas cahaya dan panas dari Matahari diprediksi akan memengaruhi kondisi lautan di Bumi serta berdampak langsung pada gaya pasang surut. Selain itu, badan antariksa NASA juga mengungkap bahwa respons Bumi terhadap badai Matahari ternyata tidak memiliki batas jenuh, yang menunjukkan betapa dinamisnya interaksi antara Bumi dan lingkungan antariksa.

Apa saja peristiwa penting lain yang melibatkan Bulan dalam waktu dekat?

Baca Juga

Rencana Pembangunan Terafab Texas oleh SpaceX dan Tesla

Rencana Pembangunan Terafab Texas oleh SpaceX dan Tesla

Selain pergeseran orbitnya, Bulan juga menjadi target berbagai aktivitas manusia dan riset sains. Salah satunya adalah prediksi mengenai bagian atas dari roket Falcon 9 milik SpaceX yang diperkirakan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026. Selanjutnya, fenomena Gerhana Matahari Total yang diprediksi terjadi pada 12 Agustus 2026 akan dimanfaatkan para ilmuwan sebagai kesempatan langka untuk mengkaji cuaca antariksa dan korona Matahari.

Bagaimana dengan penemuan ilmiah lain di luar angkasa baru-baru ini?

Eksplorasi luar angkasa terus memberikan data-data baru yang menakjubkan. Dengan memanfaatkan Teleskop James Webb dan VLT, para astronom berhasil mencitrakan Beta Pictoris d, yang tercatat sebagai planet luar tata surya paling redup yang berhasil ditangkap citranya secara langsung dari Bumi. Di sisi lain, para peneliti juga menemukan bahwa asteroid 44 Nysa berwujud unik karena mempunyai tiga lobus serta didampingi oleh sebuah bulan kecil dalam orbitnya. Sementara itu, ilmuwan juga menemukan adanya aliran sungai yang berisi metana cair di Titan, salah satu satelit alami milik Saturnus.

Penelitian astronomi juga tidak terbatas pada objek di tata surya kita. Para astronom menemukan bukti baru terkait fenomena lubang hitam Swift J1727.8-1613. Di galaksi kita sendiri, posisi Outer Arm dan Outer Scutum-Centaurus Arm di Bima Sakti rupanya berjarak 10 persen lebih jauh dibandingkan estimasi awal. Bahkan riset mengenai bagian dalam planet kita terus berkembang, di mana bagian inti dalam Bumi wujudnya berupa lapisan padat berbahan dasar besi dan nikel yang tersembunyi pada kedalaman lebih dari 5.000 kilometer di bawah permukaan. Semua temuan ini memperkaya pemahaman manusia mengenai struktur alam semesta, mulai dari interaksi Bumi-Bulan hingga ujung galaksi.

Ikuti goklik.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

BulanAntariksaAstronomiSains

Berita Terbaru Lainnya

Ekspansi Kapal Buatan PT PAL Indonesia Tembus Pasar Filipina dan Uni Emirat ArabAntisipasi Aturan Halal Baru Indonesia, Eksportir Makanan Thailand Harus Lakukan Tinjauan Sebelum Oktober 2026Tragedi Cali 1956 dan Misteri Ledakan Dinamit yang Meruntuhkan Kekuasaan Jenderal KolombiaKebakaran Mobil di SPBU Cemplang Bogor, Kronologi dan Kondisi KorbanPenyelidikan Kematian Sutrimo, Langkah Hukum Keluarga dan Proses KepolisianKarhutla Bangka Tengah Meluas Capai 118 Hektare, BPBD Keluarkan Langkah AntisipasiDaftar Saham Pilihan Investor Asing Saat IHSG Menguat pada Sesi IPerjalanan Kopi Kapal Api, Dari Kemasan Kertas Cokelat hingga Menembus Pasar Ekspor

Paling Banyak Dibaca

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

Nasional

Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat

30 Jul 2026

Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang Nuklir

Nasional

Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang Nuklir

1 Agu 2026

Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasi

Keuangan

Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasi

1 Agu 2026

Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia Numan

Edukasi

Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia Numan

1 Agu 2026

Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan Pembangunan

Nasional

Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan Pembangunan

4 Agu 2026

Jadwal Bola Malam Ini 1-2 Agustus 2026, Ada Piala AFF, Persija, dan Persebaya

Olahraga

Jadwal Bola Malam Ini 1-2 Agustus 2026, Ada Piala AFF, Persija, dan Persebaya

1 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Sinergi Kemensos dan BRIN Perkuat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan MasyarakatNasional 路 30 Jul 2026
  2. 2Cara Memahami Peringatan Presiden Prabowo Mengenai Bahaya Perang NuklirNasional 路 1 Agu 2026
  3. 3Strategi Diversifikasi Portofolio Mengikuti Tren Kripto dan Saham AS Ter-tokenisasiKeuangan 路 1 Agu 2026
  4. 4Cara Mendapatkan Bimbingan Skripsi Gratis dari Program Keliling Indonesia NumanEdukasi 路 1 Agu 2026
  5. 5Amsakar Achmad Tegaskan Peran Transmigrasi dalam Pemerataan PembangunanNasional 路 4 Agu 2026