Langkah kaki para pembeli yang hilir mudik di gerai ritel modern kini menjadi pemandangan sehari-hari di berbagai sudut wilayah Indonesia. Di balik jaringan puluhan ribu toko kelontong modern tersebut, terdapat kisah perjuangan seorang pria bernama asli Kwok Kwie Fo, atau yang kini lebih dikenal sebagai Djoko Susanto. Jauh sebelum namanya tercatat sebagai salah satu tokoh ritel terkemuka di tanah air, ia mengawali langkahnya dari sebuah ruang usaha yang sangat sederhana. Menjaga warung kelontong milik ibunya di kawasan Petojo, Jakarta, menjadi sekolah bisnis pertama tempat ia mempelajari dasar-dasar perdagangan langsung dari masyarakat sekitar.
Sebelum sepenuhnya terjun ke dunia ritel keluarga, Djoko sempat meniti karier sebagai pekerja biasa di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perakitan radio. Namun, panggilan untuk mengembangkan usaha keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut. Pada tahun 1996, ia memilih kembali untuk memfokuskan tenaga dan pikirannya guna membantu warung kelontong milik ibunya yang bernama Toko Sumber Bahagia. Di toko inilah, berbagai barang kebutuhan pokok sehari-hari seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun, hingga rokok dijajakan kepada para pelanggan lokal.








