Perusahaan-perusahaan yang selama ini ditugaskan oleh pemerintah China untuk menjinakkan 'bom' kredit macet di sistem perbankan kini justru menghadapi krisis serupa. Fenomena ini memicu kekhawatiran baru mengenai seberapa besar sebenarnya volume kredit bermasalah yang tersembunyi di balik data resmi otoritas China. Ketika lembaga penyelamat justru membutuhkan pertolongan, stabilitas sistem keuangan negara tersebut menjadi tanda tanya besar.
Krisis ini terlihat jelas pada akhir Juli 2026, ketika pengadilan di Provinsi Anhui, China timur, menyetujui proposal restrukturisasi untuk Guohou Asset Management. Perusahaan keuangan swasta ini awalnya dibentuk untuk mengambil alih kredit macet dari bank-bank bermasalah. Namun, investigasi menemukan bahwa Guohou mencatatkan kerugian operasional bertahun-tahun dan tidak sanggup membayar utangnya yang mencapai 13 miliar yuan, menjadikannya anggota pertama dari pasukan penjinak utang yang membutuhkan restrukturisasi.
Sejarah pembentukan perusahaan pengelola aset (asset-management companies/AMC) di China bermula pada tahun 1999. Saat itu, pemerintah membentuk empat AMC di bawah Kementerian Keuangan untuk menyelamatkan empat bank komersial terbesar milik negara. Alih-alih melikuidasi kredit macet dan membubarkan diri, keempat institusi ini justru membesar dengan total aset gabungan mencapai sekitar 5 triliun yuan atau setara US$755 miliar pada tahun 2018. Kini, terdapat lebih dari 60 entitas AMC lokal di China, termasuk Guohou.
Pencalonan Destry Damayanti dan Aida S Budiman sebagai Pimpinan Bank Indonesia

Dalam praktiknya, banyak AMC menyimpang dari tujuan awal. Alih-alih membersihkan neraca perbankan, mereka meminjam dana berbunga rendah dari bank dan menyalurkannya kembali dengan bunga tinggi kepada perusahaan bermasalah, termasuk para pengembang properti. Dokumen restrukturisasi Guohou bahkan mengungkap adanya 'perjanjian laci' (drawer agreements) dengan pihak bank untuk membeli kredit macet sesaat sebelum pelaporan ke regulator, lalu menjualnya kembali demi komisi. Estimasi akademik pada tahun 2020 menyebutkan bahwa praktik semacam ini berhasil menyembunyikan setidaknya separuh dari total kredit macet China.
Kasus kegagalan AMC bukanlah hal baru. Pada tahun 2020, Huarong yang merupakan AMC terbesar di China meledak dan membutuhkan dana talangan negara senilai US$6,6 miliar, yang berujung pada eksekusi mati ketuanya, Lai Xiaomin. Saat ini, tekanan terus berlanjut seiring memburuknya krisis properti yang menekan nilai real estat sebagai aset jaminan. Cinda, salah satu AMC besar milik pemerintah pusat, bahkan memperkirakan laba bersihnya pada semester pertama tahun ini akan anjlok hingga 70 persen.
Masa Depan Cerah Perbankan Digital Indonesia, Transaksi Tumbuh Pesat di Semester I-2026

Secara resmi, data kredit macet bank komersial China tercatat naik dari 3 triliun yuan pada tahun 2022 menjadi hampir 3,7 triliun yuan pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut diklaim masih tergolong kecil, yakni hanya sekitar 1,5 persen dari total aset. Namun, dengan banyaknya AMC yang bermasalah dan kebangkrutan yang mengintai entitas kecil lainnya, potensi terungkapnya kredit macet yang jauh lebih besar semakin nyata. Guohou sendiri pada akhirnya diselamatkan melalui restrukturisasi semata-mata karena adanya minat investor terhadap lisensi AMC miliknya, mengingat regulator telah menghentikan penerbitan lisensi baru sejak tahun lalu.






