Badan Pusat Statistik baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal kedua tahun 2026. Meskipun angka pertumbuhan secara keseluruhan menunjukkan performa yang cukup baik, terdapat catatan penting dari kalangan ekonom mengenai kinerja perdagangan internasional. Ekonom Ryan Kiryanto secara khusus menyoroti terjadinya kontraksi pada sektor ekspor dan impor Indonesia. Di tengah ketidakpastian global, pemerintah diimbau untuk memberikan perhatian lebih pada sektor perdagangan luar negeri ini agar target pertumbuhan tahunan tetap berada pada jalurnya.
Berikut adalah rangkuman tanya jawab mengenai dinamika pertumbuhan ekonomi dan catatan kritis terhadap kinerja ekspor nasional.
Bagaimana potret pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026?
Secara umum, perekonomian Indonesia mencatatkan kinerja yang positif pada kuartal II 2026. Produk Domestik Bruto tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan atau yoy. Jika dihitung secara ctc, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,34 persen, sedangkan secara qtq tercatat tumbuh sebesar 3,73 persen. Secara nominal, nilai PDB atas dasar harga konstan pada kuartal II 2026 tercatat sebesar Rp 3.576,2 triliun, sementara nilai PDB atas dasar harga berlaku berhasil mencapai Rp 6.552,1 triliun. Capaian ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 yang dipatok pada kisaran 5,3 hingga 5,6 persen.








