Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai dinamika perekonomian masyarakat Indonesia pada Maret 2026. Berdasarkan data tersebut, terdapat dua fenomena yang kontradiktif terjadi secara bersamaan di tanah air. Di satu sisi, tingkat kemiskinan secara nasional berhasil mencatatkan penurunan. Namun di sisi lain, ketimpangan pengeluaran masyarakat Indonesia justru dilaporkan mengalami peningkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, jarak atau kesenjangan pengeluaran antara kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan tinggi justru semakin melebar.
Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia ini diukur dengan menggunakan indikator Gini Ratio. Pada Maret 2026, Gini Ratio Indonesia tercatat sebesar 0,368. Angka ketimpangan ini mengalami kenaikan sebesar 0,005 poin jika dibandingkan dengan kondisi pada September 2025 yang berada pada angka 0,363. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa Gini Ratio memiliki rentang nilai antara 0 hingga 1. Semakin angka Gini Ratio mendekati 0, hal tersebut menunjukkan bahwa distribusi pengeluaran di antara penduduk semakin merata. Sebaliknya, jika angka tersebut semakin mendekati 1, hal itu mencerminkan tingkat ketimpangan yang semakin tinggi di tengah masyarakat.








