Sebanyak 55 kapal komersial telah dialihkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat dari pelabuhan-pelabuhan Iran hingga hari Minggu. Jumlah ini melonjak signifikan dibandingkan dengan catatan pada 2 Agustus lalu yang hanya berkisar di angka 35 kapal. Ketegangan geopolitik yang terus bereskalasi ini dipicu oleh langkah terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan perubahan strategi untuk menekan Teheran secara finansial.
Strategi baru yang disiapkan Washington kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi ketimbang melancarkan serangan militer lanjutan. Dalam pernyataannya kepada Axios pada hari Minggu, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap menunggu hingga tekanan ekonomi tersebut benar-benar menghantam Iran secara telak. Trump menggambarkan pendekatan ini sebagai langkah non-agresif yang memanfaatkan situasi inflasi tinggi serta kondisi keuangan Iran yang kian memburuk. Melalui unggahan grafik di platform Truth Social, Trump menunjukkan pelemahan tajam mata uang rial Iran sejak tahun 2025, seraya menegaskan bahwa saat ini Teheran tidak memiliki dana dan mata uangnya sudah tidak berharga.
Di sisi lain, pemerintah Iran merespons keras tekanan ekonomi tersebut. Seorang pejabat senior Iran menyampaikan kepada MS NOW bahwa Teheran menuntut Amerika Serikat untuk memenuhi seluruh persyaratan yang tertuang dalam nota kesepahaman yang kabarnya telah ditandatangani kedua negara pada bulan Juni. Tuntutan tersebut meliputi pembayaran kompensasi, penghentian pertempuran di Lebanon, pencabutan blokade laut oleh militer Amerika Serikat, penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari kawasan Timur Tengah, serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Harga Minyak Dunia Mandek di US$87,8 saat Harapan Damai AS-Iran Redup

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada peluang untuk memulai kembali negosiasi selama Amerika Serikat belum membayar ganti rugi atas pelanggaran yang dituduhkan. Di tengah kebuntuan diplomasi ini, Iran dilaporkan sedang mematangkan rute transit di Selat Hormuz melalui negosiasi tahap akhir dengan Oman. Kendati demikian, Araghchi menggarisbawahi bahwa kesepakatan dengan Oman tersebut tidak serta-merta membuat jalur pelayaran strategis itu akan dibuka kembali secara penuh.
Kondisi di Selat Hormuz saat ini kian genting bagi arus perdagangan global. Jalur yang sebelumnya menampung seperempat perdagangan minyak laut dunia dan seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global ini hanya mencatat delapan pelintasan kapal hingga hari Jumat. Selain pengalihan puluhan kapal, Komando Pusat Amerika Serikat melaporkan telah melumpuhkan dua kapal komersial dan menaiki dua kapal lainnya untuk memastikan kepatuhan. Ketatnya pengawasan ini langsung memicu reaksi pasar, di mana harga minyak mentah Brent naik 1,1 persen menjadi US$84,45 per barel, dan WTI menguat 1 persen ke posisi US$78,98 per barel.
Dampak Penertiban Tambang Ilegal Terhadap Kinerja dan Produksi PT Timah Tbk

Sebagai langkah antisipasi, Iran kini tengah mempertimbangkan rancangan regulasi baru yang melarang kapal-kapal berbendera Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz. Teheran bahkan berencana mengenakan denda kompensasi hingga 20 persen dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar aturan transit tersebut. Menanggapi situasi ini, analis komoditas dari ING Bank, Warren Patterson, memperingatkan bahwa ruang kompromi antara Washington dan Teheran kini semakin menyusut, meskipun ING tetap mempertahankan proyeksi rata-rata harga minyak Brent pada kuartal ini di level US$80 per barel.






