Pemerintah terus berupaya mempercepat pemulihan sektor pertanian dan infrastruktur pendukung di Provinsi Aceh pascabencana alam. Langkah koordinasi terbaru ditandai dengan penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Banda Aceh pada Jumat, 7 Agustus 2026. Pertemuan ini diinisiasi oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) di Aceh untuk menyelaraskan program antara pemerintah pusat dan daerah. Fokus utama koordinasi tematik ini mencakup integrasi pemulihan daerah aliran sungai (DAS), sistem pengairan, dan lahan pertanian guna memastikan penanganan dampak bencana berjalan lebih terstruktur dan komprehensif.
Tingkat kerusakan lahan pertanian di beberapa wilayah Aceh tergolong masif. Di Kabupaten Aceh Utara, tercatat sawah yang mengalami rusak berat mencapai 4.679 hektare, rusak sedang 6.447 hektare, dan rusak ringan sebesar 7.189 hektare. Sebagian dari lahan yang rusak berat tersebut bahkan tertimbun lumpur dengan ketebalan mencapai 1,5 hingga 2 meter, yang menyebabkan perubahan struktur tanah di sejumlah lokasi. Kerusakan infrastruktur juga terjadi di Jambo Aye, di mana bendung dan saluran pembawa dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya, terdapat sekitar 1.507 hektare lahan pertanian yang terdampak oleh bencana ini.








