Kawasan Selat Hormuz kembali membara setelah sebuah kapal tanker yang berafiliasi dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) menjadi sasaran serangan rudal pada Sabtu dini hari, 8 Agustus 2026. Insiden yang menargetkan armada milik Uni Emirat Arab (UEA) ini terjadi di salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia, memicu kekhawatiran baru akan stabilitas keamanan maritim regional. Meskipun serangan rudal tersebut tidak menimbulkan korban luka di antara kru kapal dan situasi di lokasi kejadian dilaporkan telah berhasil dikendalikan dengan baik, peristiwa ini memicu kecaman keras dari pemerintah Uni Emirat Arab. UEA mengecam tindakan penargetan kapal tanker tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan navigasi internasional.
Ketegangan bersenjata di Selat Hormuz ini merupakan kelanjutan dari konflik yang lebih luas antara








