Pemerintah Inggris melalui Kementerian Dalam Negeri atau Home Office secara resmi mengakui sedikitnya lima perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual oleh mendiang Mohamed Al Fayed sebagai korban perbudakan modern. Keputusan ini menandai langkah penting dalam penanganan kasus eksploitasi yang melibatkan mantan pemilik toko ritel mewah Harrods tersebut. Melalui keputusan yang dikenal dengan istilah conclusive grounds atau alasan yang menyimpulkan, para korban secara hukum dinyatakan sebagai sasaran perdagangan manusia dan eksploitasi. Praktik kejahatan tersebut diakui secara resmi telah terjadi baik di dalam negeri Inggris maupun secara internasional. Bahkan, laporan mengungkapkan terdapat satu kasus spesifik yang memperlihatkan bahwa praktik perdagangan manusia tersebut terjadi sepenuhnya di dalam area ritel Harrods.








