Pada bulan Juli 2026, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Akprind Indonesia menyelenggarakan sebuah kegiatan pelatihan yang ditujukan bagi para petani di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pelatihan ini berfokus pada pengenalan dan penerapan teknologi irigasi tetes yang berbasis Internet of Things (IoT). Sasaran dari program pengabdian ini adalah Kelompok Tani Rukun Makmur I yang berlokasi di Karanggeneng, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Program pengabdian masyarakat ini dipimpin langsung oleh Muchlis, yang bertindak sebagai Ketua Tim PkM Universitas AKPRIND Indonesia. Kehadiran tim ini diharapkan dapat memberikan solusi teknologi yang relevan bagi masyarakat setempat.
Wilayah Karanggeneng di Desa Payaman sendiri memiliki potensi pertanian yang cukup besar namun juga menghadapi tantangan tersendiri. Sebagian besar masyarakat di Karanggeneng bekerja sebagai petani. Secara keseluruhan, para petani di kawasan ini mengelola lahan pertanian berupa sawah dengan luas mencapai sekitar 45 hektare. Kelompok Tani Rukun Makmur I yang menjadi mitra dalam program pelatihan ini memiliki anggota yang cukup banyak, yaitu terdiri dari sekitar 70 kepala keluarga. Kelompok tani ini menjadi wadah utama bagi para petani setempat dalam berkoordinasi dan mengelola aktivitas pertanian mereka sehari-hari.
Dinamika Kosmik Astrologi Tiongkok dan Perkembangan Situasi Warga pada 20 Agustus 2026

Meskipun memiliki lahan pertanian yang cukup luas, para petani di Karanggeneng menghadapi kendala serius terkait sistem pengairan. Lahan pertanian di wilayah tersebut merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada ketersediaan air permukaan. Ketergantungan yang tinggi pada air permukaan ini diperparah oleh kondisi infrastruktur pengairan yang belum memadai. Akibat adanya keterbatasan saluran irigasi yang tersedia di wilayah tersebut, para petani menghadapi kendala dalam menentukan masa tanam. Kondisi ini menyebabkan para petani setempat hanya dapat menanam padi sekali saja dalam kurun waktu satu tahun.
Selain masalah keterbatasan saluran irigasi, para petani juga menghadapi kendala teknis lainnya dalam upaya mengalirkan air ke lahan mereka. Salah satu kendala utama adalah sulitnya memanfaatkan energi listrik dari PLN untuk mengoperasikan pompa air di area persawahan. Hal ini terjadi karena jarak antara lahan pertanian dengan kawasan permukiman warga tergolong sangat jauh. Kondisi jarak yang jauh tersebut membuat penggunaan listrik PLN menjadi tidak praktis dan sulit direalisasikan karena membutuhkan bentangan kabel yang sangat panjang. Tidak hanya itu, pasokan air dari saluran irigasi yang ada sering kali baru bisa mencapai lahan pertanian pada sore hari, itu pun dengan debit air atau volume yang sangat terbatas.
Apresiasi atas Solusi Pemerintah Terkait Konflik PT Timah dengan Masyarakat Bangka Belitung

Untuk mengatasi berbagai permasalahan pengairan tersebut, pelatihan teknologi irigasi tetes berbasis Internet of Things (IoT) yang diinisiasi oleh Universitas Akprind Indonesia menjadi langkah penting. Teknologi ini dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan air secara lebih efisien dan terjadwal. Agar teknologi baru ini dapat diadopsi dengan baik oleh para petani, Tim PkM Universitas AKPRIND Indonesia tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan saja. Setelah pelatihan selesai diselenggarakan, tim yang dipimpin oleh Muchlis ini berkomitmen untuk memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Pendampingan pascapelatihan ini bertujuan untuk membantu serta mendampingi para petani dalam mengimplementasikan teknologi irigasi tetes berbasis IoT tersebut secara langsung di lahan pertanian mereka.






