Dunia investasi global sering kali didominasi oleh nama-nama besar seperti Warren Buffett, George Soros, dan Peter Lynch. Namun, ada satu sosok akademisi yang berhasil melampaui kinerja para investor legendaris tersebut dengan memanfaatkan kekuatan matematika dan statistika sebagai metode pelaksanaan investasinya. Beliau adalah James "Jim" Simons, seorang dosen matematika asal Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai investor kawakan. Ia merupakan pendiri perusahaan manajemen investasi kuantitatif bernama Renaissance Technologies. Hingga akhir hayatnya pada 10 Mei 2024 di New York City dalam usia 86 tahun, Simons dikenal sebagai salah satu pengajar terkaya di dunia. Kekayaannya tercatat mencapai US$30,7 miliar atau setara dengan Rp482 triliun, yang menempatkannya di posisi ke-51 sebagai orang terkaya di dunia versi Forbes. Bagi Anda yang ingin memahami bagaimana perusahaan hedge fund miliknya sukses mencatatkan rata-rata keuntungan 60% setiap tahunnya, berikut adalah prinsip dasar yang diterapkan oleh Jim Simons.
Langkah pertama untuk mengikuti jejak kejeniusan Simons adalah dengan menggeser fokus investasi pada metode kuantitatif matematis. Simons membuktikan bahwa matematika dapat menjadi alat utama untuk meneliti perdagangan di bursa saham. Ketertarikan Simons pada pencarian keuntungan finansial bermula dari kebutuhan hidup sehari-hari, seperti yang ia ceritakan dalam otobiografinya yang terbit pada tahun 2019. Demi mencari cara menghasilkan uang lebih banyak, ia mendirikan perusahaan bernama iStar bermodalkan kemampuan matematikanya. Melalui iStar, Simons berupaya mendapatkan uang dengan cara meneliti dan menghitung secara matematis dinamika perdagangan bursa saham, yang kemudian membuka ide bisnis baru di sektor investasi.








