Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung menunjukkan arah kebijakan yang berfokus pada penyelesaian program-program kerja terdahulu. Politikus PDIP yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Kabinet pada era Presiden Jokowi ini menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ego politik untuk menghentikan program yang telah dirintis oleh para pemimpin Jakarta sebelumnya. Menurutnya, tidak ada rasa malu untuk melanjutkan kebijakan yang baik demi kemaslahatan warga Jakarta, mulai dari program bentukan Sutiyoso, Bang Ali, Fauzi Bowo, Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, hingga Jokowi. Pendekatan ini menjadi landasan penting dalam mengawal kelanjutan pembangunan kota tanpa harus memulai segala sesuatunya dari nol.
Langkah awal yang nyata dari komitmen ini terlihat dari pembersihan sisa-sisa proyek yang lama terbengkalai di jalur protokol. Salah satu pencapaian yang mencolok adalah pembersihan struktur monorel di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tiang-tiang beton yang sempat mangkrak selama 22 tahun kini telah dibersihkan sepenuhnya dari kawasan tersebut. Proyek monorel Jakarta sendiri pertama kali dibangun pada tahun 2004 di bawah kepemimpinan Gubernur Sutiyoso sebagai bagian dari rencana induk transportasi makro. Namun, karena kendala pendanaan dan perselisihan di dalam konsorsium, proyek tersebut akhirnya terhenti dan menyisakan tiang-tiang beton yang mengganggu estetika serta tata ruang kota selama puluhan tahun hingga akhirnya berhasil diselesaikan.








