Kehancuran total yang melanda Tokyo akibat Insiden Shibuya menjadi titik balik terbesar dalam cerita Jujutsu Kaisen karya Gege Akutami. Peristiwa tragis tersebut tidak hanya meruntuhkan tatanan kota, tetapi juga merombak total struktur masyarakat penyihir akibat rencana besar yang disusun oleh Kenjaku. Puncak dari rencana manipulatif ini adalah dimulainya Culling Game, sebuah permainan maut yang dirancang untuk mengumpulkan energi kutukan dalam skala raksasa. Dampak dari permainan ini sangat masif, mengubah lanskap Jepang menjadi medan pertempuran berdarah bagi para penyihir modern maupun kuno.
Tujuan utama Kenjaku menyelenggarakan Culling Game adalah mengumpulkan energi kutukan dalam jumlah yang sangat besar. Energi ini nantinya akan digunakan untuk memaksa evolusi umat manusia di Jepang dengan cara menyatukan mereka dengan Tengen-sama. Konsekuensi dari rencana ini sangat mengerikan, karena proses penyatuan tersebut mengancam eksistensi manusia biasa dan berpotensi melahirkan entitas kutukan baru yang tidak terkendali. Demi mewujudkan ambisi tersebut, seluruh wilayah Jepang dipaksa masuk ke dalam sistem permainan yang terisolasi.








